BBM BERSUBSIDI: Belum ada solusi untuk tak lampaui kuota

 
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 17 April 2012  |  18:56 WIB

 

JAKARTA : Pemerintah hingga kini masih terus mencari cara untuk menyiasati agar kuota bahan bakar minyak bersubsidi tahun ini sebesar 40 juta kiloliter tidak terlampaui.
 
Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo mengatakan dulu ada ide untuk menaikkan harga BBM, namun sekarang hal itu belum bisa direalisasikan karena asumsi ICP belum 15% di atas asumsi APNB-P 2012. 
 
Untuk menjaga kuota agar tetap terjaga di level 40 juta kiloliter, lanjutnya, intinya harus dilakukan penghematan di segala lini. Jika tidak, kuota itu diperkirakan akan habis pada Oktober 2012. 
 
“Idenya adalah tadinya direncanakan 40 juta kiloliter dan ditakutkan membengkak jadi 47 juta kiloliter. Kami usahakan yang 7 juta kiloliter itu tidak disubsidi,” ujarnya di sela-sela acara pembukaan Ozmine 2012, hari ini.
 
Widjajono mengatakan opsi terkait pembatasan konsumsi Premium pada cc mobil tertentu masih dikaji dan hanya merupakan salah satu opsi. Cara untuk menjaga kuota, lanjutnya, bisa bermacam-macam, mulai dari pemakaian Pertamax, Premium hanya untuk kendaraan umum dan motor, konversi dari BBM ke bahan bakar gas, perpindahan ke transportasi umum, hingga opsi menggunakan alat penghemat BBM. 
 
“Soal cc mobil masih dibicarakan, bukan hanya di ESDM, tapi juga antarkementerian. Ada yang bilang mobil itu mewah karena cc-nya, ada yang bilang karena harganya, ada juga yang bilang mewah itu bukan karena cc-nya, tapi karena tahun pembuatannya. Mewah juga tergantung merknya, apa Mercy atau apa,” ujarnya. 
 
Menurutnya, pengawasannya nanti oleh BPH Migas juga akan sangat bergantung pada opsi apa yang dipilih. Penggunaan stiker di mobil sebagai pertanda, lanjutnya, masih merupakan wacana yang dikaji. 
 
Selain berbagai opsi itu, Widjajono kembali mewacanakan terkait opsi campuran antara Premium dan Pertamax atau menjadi Premix. Menurutnya, jika pemerintah bisa menyediakan satu jenis BBM yang harganya di tengah-tengah antara yang subsidi dan yang nonsubsidi, masyarakat juga masih mau membelinya.  
 
“Saya jajaki juga opsi-opsi seperti BBM antara, misalnya namanya Premium Plus atau Premix, itu sedang dibicarakan tapi belum selesai. Banyak juga yang ngga keberatan kalau misalnya harganya tidak Rp10.000 per liter, tapi Rp7.000 per liter, misalnya. Itu ada pasarnya, nanti kita jajaki satu per satu,” ujarnya. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top