KASUS DEMENSIA: Orang pikun makin banyak pada 2050

JAKARTA: Kemiskinan dan beban sosial yang makin tinggi diduga memicu makin banyaknya orang pikun. Kasus demensia diproyeksi melambung dalam beberapa dekade mendatang khususnya di negara miskin, ungkap Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).Setidaknya 35,6
News Editor | 12 April 2012 03:48 WIB

JAKARTA: Kemiskinan dan beban sosial yang makin tinggi diduga memicu makin banyaknya orang pikun. Kasus demensia diproyeksi melambung dalam beberapa dekade mendatang khususnya di negara miskin, ungkap Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).Setidaknya 35,6 juta orang  hidup dengan demensia pada 2010, angka ini melambung dua kali lipat menjadi 65,7 juta pada  2030. Pada 2050, kasus demensia tiga sampai 115,4 juta."Angka tersebut sudah besar dan meningkat agak cepat," kata Shekhar Saxena, Kepala Divisi Kesehatan Mental WHO.Kebanyakan pasien demensia dirawat oleh keluarga yang memikul sebagian besar biaya tahunan saat ini diperkirakan sebesar US$604 miliar. Dan beban keuangan diperkirakan akan meningkat bahkan lebih cepat dari jumlah kasus, kata WHO dalam laporan pertama substansial dalam masalah ini."Bencana mendorong jutaan rumah tangga di bawah garis kemiskinan," kata  Direktur Jenderal Margaret Chan.Demensia, penyakit otak yang mempengaruhi memori, perilaku dan kemampuan untuk melakukan bahkan tugas umum, mempengaruhi orang-orang kebanyakan lebih tua. Sekitar 70% kasus ini diyakini disebabkan oleh Alzheimer.Dalam beberapa dekade terakhir, demensia telah menjadi isu kesehatan masyarakat yang utama di negara-negara kaya. Tetapi dengan populasi di negara miskin dan menengah diproyeksikan tumbuh dan usia pesat selama dekade mendatang, WHO meminta kesadaran masyarakat yang lebih besar dan program dukungan yang lebih baik di mana-mana.Kasus yang terjadi di negara miskin dan menengah diperkirakan akan meningkat di bawah 60% dan naik menjadi 70% pada 2050.Sejauh ini, hanya delapan negara - termasuk Inggris, Perancis dan Jepang - yang memiliki program nasional untuk mengatasi demensia, kata WHO. Beberapa yang lain, seperti Amerika Serikat, memiliki rencana di tingkat negara bagian. (AP/arh)

 

>>BACA JUGA  ARTIKEL LAINNYA:

* GADGET pintar LG hanya Rp1,2 juta

* Bursa Wallstreet terbakar sinyal THE FED

 

Sumber : Aprika R. Hernanda

Tag :
Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top