ASEAN OPEN SKY ancam daya saing maskapai nasional

 
nonaktive - Arif Gunawan Sulistyono | 03 April 2012 16:38 WIB

 

JAKARTA: Penerbangan nasional terancam kalah saing dengan penerbangan asing saat penerapan Asean Open Sky 2015, karena infrastruktur bandara-bandara di Tanah Air belum siap dan komponen biaya bahan bakar avtur yang lebih mahal hingga 10%. 
 
Padahal, dari sisi pasar, Indonesia dinilai paling besar peluangnya karena pertumbuhan jumlah penumpang dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ketimbang negara-negara lain di Asean. 
 
Ketua Umum Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Emirsyah Satar mengatakan pasar penerbangan Indonesia tercatat paling besar ketimbang negara-negara Asean lainnya, yakni akan mencapai 100 juta pada 2015 dengan asumsi pertumbuhan 11%-12% per tahun.  
 
Angka pertumbuhan ini lebih rendah ketimbang sebelumnya 15%, karena dipengaruhi tingginya harga bahan bakar avtur.
 
Industri penerbangan nasional, lanjut Emirsyah, mampu tetap membukukan pertumbuhan yang tinggi ketika industri penerbangan di luar negeri banyak yang membukukan kerugian akibat krisis ekonomi di Eropa dan AS.
 
“Pasar penerbangan terbesar Asean ya Indonesia, karena pertumbuhan jumlah penumpangnya paling besar. Untuk itu kita harus siap-siap karena menjadi incaran, pemainnya akan bertambah dan akan memengaruhi bisnis penerbangan nasional,” kata Emirsyah dalam acara Airlines Day 2012 hari ini.
 
Dia menambahkan pada saat Asean Open Sky pada 2015, pemerintah harus menyiapkan beberapa hal termasuk keseimbangan dengan negara Asean, daya saing terkait harga bahan bakar avtur, serta kesiapan infrastruktur.  
 
“Yang kita minta dari pemerintah, pada saat Asean Open Sky 2015, agar menerapkan posisi yang seimbang, pada level yang sama. Jangan sampai kita susah masuk ke negara lain, tetapi mereka gampang kesini,” kata Emirsyah.
 
Terkait daya saing, Emirsyah menjelaskan, harga avtur di Indonesia lebih mahal 8%-10% ketimbang bahan bakar di luar negeri. Hal ini karena banyaknya tambahan komponen biaya avtur seperti distribusi hingga ke Timur Indonesia sedangkan jumlah yang didistribusikan lebih sedikit, juga adanya konsesi di bandara.
 
 “Distribusi fuel (bahan bakar) serta konsensi di bandara, menambah biaya avtur, sehingga selisih harga avtur domestik dengan luar negeri mencapai 8%-10% lebih tinggi dari harga patokan bahan bakar,” ucapnya.
 
Emirsyah mengatakan selisih ini akan memengaruhi daya saing penerbangan Tanah Air, sehingga harus juga diperhitungkan oleh pemerintah jika ingin industri penerbangan nasional tidak kalah bersaing dengan penerbangan asing. Biaya bahan bakar ini menyumbang 35%-40% dari total biaya maskapai per tahun.
 
Menurutnya, pesaing terkuat ketika Asean Open Sky diterapkan yakni kehadiran maskapai-maskapai asing berkelas dunia seperti Singapore Airline, Thai Airline dan Malaysian Airline, juga maskapai bertarif rendah atau low cost seperti AirAsia, Tiger Airways, dan Jetstar.
 
“Maskapai-maskapai ini, baik yang full service, maupun low cost, sudah diakui dunia dengan sejumlah penghargaan yang diperolehnya. Inilah saingan kita pada saat Open Sky nanti,” tutur Emirsyah. 
 
5 Bandara disiapkan
 
Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S. Gumay mengatakan untuk Asean Open Sky 2015, pemerintah sudah menyiapkan lima bandara yang akan dibuka yakni Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Kuala Namu Medan, Juanda Surabaya, Ngurah Ray Bali, dan Sultan Hasanuddin Makassar.
 
“Dipilihnya kelima bandara ini karena dari sisi infrastruktur dinilai paling siap, meski ada beberapa bandara lain sudah bertaraf internasional. Kelimanya sudah mewakili wilayah Indonesia, barat, tengah dan timur,” tutur Herry. 
 
Menurut Herry, sebelum diterapkannya Asean Open Sky, pihaknya sudah melakukan persiapan mulai 2009, seperti efisiensi infrastruktur di bandara seperti kapasitas tamping terminal, landasan pacu atau runway, taxiway, dan membangun sistem navigasi terbaru yakni Jakarta Automatic Air Traffic System (JAATS).
 
“Memang, khusus Bandara Soekarno-Hatta, kapasitas runway nya sudah maksimum, maka harus dibangun runway ketiga. Tetapi kalau sulit diwujudkan, mau tidak mau kita harus membangun bandara lain,” ucap Herry.
 
Selain itu, imbuh Herry, pihaknya sebagai regulator juga sudah menyiapkan sejumlah insentif seperti bea masuk spare part, bebas pajak bahan bakar, mengatur tarif batas atas. “Saat ini kami masih dengan Kementerian Keuangan soal keringanan pajak lainnya untuk industry penerbangan,” tuturnya.
 
Pakar penerbangan yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Udara Chappy Hakim mengatakan di kawasan Asean, pasar Indonesia paling besar, open sky diintip semua negara. Indonesia menggiurkan di kawasan ini, mungkin di dunia, dilihat dari pertumbuhan penumpang, 2-3 tahun lagi tertinggi di dunia.
 
“Sayangnya infrastruktur dan  SDM [sumber daya manusia] tidak tumbuh secepat itu, pemerintah belum cepat menangani, bandara kita sudah tidak karu-karuan. Pertumbuhan penumpang hanya direspon tambahan maskapai dan pesawat, sedangkan kesiapan bandara, ATC tidak,” tutur Chappy. (sut)
 

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top