Kapasitas Pelabuhan Dumai naik lebih dari 500%

MEDAN: Keluhan eksportir terhadap minimnya kapasitas infrastruktur logistik di Pulau Sumatra sebagian akan teratasi dengan peningkatan kapasitas terminal curah kering Pelabuhan Dumai pada tahun depan.Kapasitas terminal bongkar muat curah kering Pelabuhan
Andi Suhendri Rambe
Andi Suhendri Rambe - Bisnis.com 09 Desember 2011  |  15:57 WIB

MEDAN: Keluhan eksportir terhadap minimnya kapasitas infrastruktur logistik di Pulau Sumatra sebagian akan teratasi dengan peningkatan kapasitas terminal curah kering Pelabuhan Dumai pada tahun depan.Kapasitas terminal bongkar muat curah kering Pelabuhan Dumai akan meningkat lebih dari 500% dari 1.200 ton per hari pada saat ini menjadi 8.000 ton per hari, menyusul beroperasinya terminal curah kering baru ada awal 2012.“Fasilitas pendukung TCK [terminal curah kering], seperti gudang sudah selesai dan siap dioperasikan. Pembangunan conveyor telah mencapai 60%,” ujar Harianja, General Manager PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) Cabang Dumai, kepada Bisnis, pekan ini.Pada saat ini, jelasnya, dilakukan pemasangan roller dan belthing di pelabuhan yang terletak 200 kilo meter dari Pekanbaru, Ibu Kota Propinsi Riau itu. Peningkatan kapasitas ini menjadi rangkaian upaya perusahaan menjadikan Dumai memiliki pelabuhan bertaraf internasional.Pasalnya, rendahnya kapasitas infrastruktur pelabuhan di Indonesia masih menjadi kendala dalam meningkatkan investasi. Fasilitas infrastruktur yang minim tidak hanya terjadi di pelabuhan-pelabuhan kecil, tetapi juga pelabuhan besar.Menurut Harianja, pembangunan TCK di Pelabuhan Cabang Dumai diharapkan akan meningkatkan kegiatan ekspor dan impor barang curah kering di Sumatra, khususnya, sehingga berdampak domino terhadap perbaikan ekonomi masyarakat.   “Pelabuhan merupakan tempat transit barang dalam jumlah massal. Pembangunan TCK ini merupakan fasilitas pendukung untuk memperlancar kegiatan stevedoring dari dan ke kapal, juga menghindari terjadinya stagnasi barang di pelabuhan,” jelasnya.Lebih terperinci, Humas Pelindo Cabang Dumai Harlem Purba menambahkan pengoperasian TCK ini akan menekan biaya yang dikeluarkan kapal selama berada di Pelabuhan Dumai, baik biaya labuh, tambat, dan operasional.Peningkatan kapasitas terminal akan menurunkan waktu tunggu kapal dan masa tambat. Namun, dia tidak menyebutkan menyebutkan jumlah biaya labuh, tambat, dan operasional kapal yang mampu dihemat dengan beroperasinya TCK di Dumai.Secara umum, ujarnya, masa tambat kapal pengangkut palm kernel ekspeller (PKE) sebelum dan sesudah menggunakan conveyor. Sebelum menggunakan conveyor, untuk muatan 8.000 ton PKE dibutuhkan masa tambat 3,75 etmal (3,6 hari) dengan kapasitas 1.200 ton per hari.  Dengan menggunakan conveyor, masa tambat kapal akan dikurangi 2,6 hari menjadi 1 hari karena kapasitas terminal bongkar muat menggunakan conveyor mencapai 8.000 ton per hari.Dari sesi dampak terhadap lingkungan, lanjut Harianja, pengoperasian TCK lebih bersahabat karena debu-debu PKE tidak akan beterbangan lagi. Pengoperasian conveyor mengurangi pencemaran udara karena loading point conveyor langsung masuk ke dalam hatch kapal. (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top