Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Target penerimaan Bea & Cukai hadapi risiko fiskal

JAKARTA: Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dihadapkan pada sejumlah risiko fiskal untuk mencapai target penerimaan yang dibebankannya pada tahun ini maupun tahun depan, a.l. fluktuatif harga CPO dan pembebasan bea masuk akibat perjanjian perdagangan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 23 November 2011  |  17:59 WIB

JAKARTA: Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dihadapkan pada sejumlah risiko fiskal untuk mencapai target penerimaan yang dibebankannya pada tahun ini maupun tahun depan, a.l. fluktuatif harga CPO dan pembebasan bea masuk akibat perjanjian perdagangan bebas.Agung Kuswandono, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, menuturkan ada konsekuensi terhadap penerimaan negara dari bea masuk dari kerja sama perdagangan internasional melalui skema perjanjian perdagangan bebas (FTA), yang mempersyaratkan pembebasan dan keringan tarif. Sementara dari sektor cukai, risiko penerimaan muncul dari konsistensi implementasi Road Map Hasil Tembakau.“Seperti rencana pemberlakuan Peraturan pemerintah Pengendalian Tembakau, antisipasi ratifikasi framework control tobacco convention (FCTC), dan larangan merokok di tempat umum,” ujar dia dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR, hari ini.Selain itu, lanjut dia, dari sektor bea keluar juga ada risiko yang berpotensi menghambat upaya mencapai target penerimaan, a.l. fluktuasi harga kelapa sawit (CPO) internasional. Kendati risiko-risiko tersebut membayangi kinerja DJBC sampai saat ini, realisasi penerimaan yang berhasil dikumpulkan relatif sudah melampaui ekpektasi.DJBC mencatat sampai 15 November penerimaan negara dari kegiatan perdagangan internasional sudah mencapai Rp112 triliun atau 97,41% dari target Rp115 triliun di APBNP 2011. Rinciannya adalah bea masuk Rp21,48 triliun (99,93%), bea keluar Rp25,74 triliun (101,21%), dan cukai Rp64,79 triliun (95,19%).“Sampai akhir November semoga dapat tercapai targetnya. Tapi bukan berarti kami sudah selesai tugas,” ujar Agung.Sementara untuk tahun depan, lanjut dia, peluang dan risiko yang dihadapkan DJBC masih sama untuk bisa mencapai target penerimaan baru yang lebih tinggi dari tahun ini. Bea masuk dan bea keluar kecenderungannya menurun sebagai dampak dari penerapan FTA dan kecenderungan harga kelapa sawit internasional yang turun dalam 3 bulan terakhir.“Bea masuk memang trennya selalu turun karena FTA. Bea keluar juga diluar kontrol DJBC, tapi trennya juga selalu menurun karena grafiknya dalam 3 bulan ini turun, itu betul-betul karena harga CPOinternasional,” tuturnya.Dari sisi cukai, lanjut Agung, relatif targetnya bisa dicapai karena dari sisi permintaan barang-barang kena cukai sudah terprediksi. Terlebih untuk produk hasil tembakau, tarifnya sudah dinaikanrata-rata 16% per 1 Januari. “Cukai rokok itu sekitar 95% dari total target penerimaan cukai.”Muhammad Firdaus, Anggota Komisi XI DPR, mendesak DJBC untuk meningkatkan kyualitas dari aparatnya agar tidak lagi mudah dikelabui penyelundupan. Keprihatinan tersebut muncul setelah melihat jumlahperedaran  narkoba yang diselundupkan lebih besar dari pada yang berhasil dicegah.“Ini mengindikasikan penyelundup lebih pintar ketimbang petugas. Untuk mengatasi ini maka petugas Bea dan Cukai harus Lebih pintar dari penyelundup”, tuturnya. (faa)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Agust Supriadi & Ana Noviani

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top