Krisis Eropa & AS berdampak minim atas RI

JAKARTA: Krisis ekonomi di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat diyakini hanya akan berdampak minimal terhadap sektor riil Indonesia yang 70% ekonominya ditopang oleh pasar domestik.Stabilitas rupiah dan pengurangan ketergantungan terhadap barang
Hasan Zein Mahmud
Hasan Zein Mahmud - Bisnis.com 30 September 2011  |  17:41 WIB

JAKARTA: Krisis ekonomi di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat diyakini hanya akan berdampak minimal terhadap sektor riil Indonesia yang 70% ekonominya ditopang oleh pasar domestik.Stabilitas rupiah dan pengurangan ketergantungan terhadap barang impor menjadi alternatif solusi untuk menghindari dampak negatif krisis Eropa dan Amerika Serikat.Fauzi Ichsan, Managing Director & Senior Economist Standard Chartered Bank Indonesia, mengatakan krisis ekonomi di Eropa dan AS kali ini berbeda tipologi dengan krisis pada 2008-2009. Kecuali terjadi masalah pada bank Jerman dan Prancis yang memiliki eksposur besar di negara-negara krisis, seperti Yunani, Spanyol, Portugal, dan Italia, krisis tidak akan sedahsyat yang dipicu oleh subprime mortgage dan menelan korban Lehman Brothers.Dia mengatakan jikapun krisis terus bertahan tanpa solusi, sektor riil Indonesia tidak akan terkena dampak kecuali dalam batas minimal. Kendati Eropa dan AS merupakan 30% pangsa pasar ekspor Indonesia, sektor riil nasional 70% ditopang oleh pasar domestik."Krisis Eropa dan Amerika Serikat tidak akan berdampak signifikan terhadap sektor riil karena pasar produk kita 70% masih ditopang oleh domestik. Sektor finansial justru akan lebih merasakan dampaknya," terangnya hari ini.Risiko terbesar dari krisis Eropa dan AS, tuturnya, yaitu memburuknya volatilitas pasa global yang bisa memicu pelarian modal dari emerging markets, termasuk Indonesia. "Akan tetapi, rapuhnya ekonomi AS dan zona Eropa tidak akan berujung pada resesi global jilid kedua karena dalam kondisi tertekan IMF dan Uni Eropa akan ambil tindakan tegas."Dia juga mengungkapkan krisis yang terjadi saat ini, cenderung merupakan riak-riak kecil pada masa transisi pergeseran kekuatan ekonomi dari Barat ke Timur. "Abad 21 ini adalah abad Asia, kekuatan ekonomi ada di China, India, dan Indonesia." (tw) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top