Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tersendat, pinjaman untuk proyek infrastruktur baru cair 25%

 
Aurelia Nelly
Aurelia Nelly - Bisnis.com 28 September 2011  |  18:59 WIB

 

JAKARTA: PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) kemungkinan baru dapat menarik dana pinjaman sebesar US$50 atau 25% dari komitmen pinjaman subordinasi (subordinate loan agreement/SLA) untuk pembiayaan proyek infrastruktur senilai total US$200 juta pada awal tahun depan.
 
Dana pinjaman itu berasal dari Bank Dunia (World Bank) dan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank) untuk membiayai pembangunan proyek infrastruktur di Indonesia melalui anak usaha perseroan yaitu PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF). Porsi kepemilikan saham SMI di IIF pada saat ini mencapai 40%.
 
Frans Nambo Sukardi, Direktur Pembiayaan Sarana Multi Infrastruktur, mengatakan perseroan telah menganggarkan untuk menarik dana pinjaman senilai US$50 juta atau 25% dari keseluruhan komitmen pinjaman US$200 juta pada tahun ini. 
 
Akan tetapi, lanjutnya, hingga saat ini belum ada proyek infrastruktur yang siap didanai sehingga ada kemungkinan pencairan dana tersebut baru dapat terealisasi pada awal tahun depan.
 
“Persiapan proyek infrastruktur membutuhkan waktu cukup lama. Sekarang mereka [IIF] masih memitigasi proyeknya. Akan susah kalau proyek belum siap. Mungkin di awal tahun [depan],” katanya seusai rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta hari ini.
 
Emma Sri Martini, Presiden Direktur Sarana Multi Infrastruktur, memastikan pinjaman subordinasi senilai US$200 juta akan cair jika proyek infrastruktur telah ada dan siap dibiayai. 
 
Di samping pinjaman subordinasi, lanjutnya, masih ada komitmen pemodal senilai US$160 juta yang juga akan cair jika proyek infrastruktur telah siap.
 
Berdasarkan data SMI, sebanyak US$60 juta adalah komitmen dari perseroan, sebanyak US$40 dari ADB, US$40 juta dari International Finance Corporation (IFC), dan US$20 juta dari Deutsche Investition und Entwicklungsgesellschaft mbH (DEG), lembaga pembiayaan pembangunan asal Jerman.
 
“Penyuntikan dana akan dilakukan pada saat proyek sudah ada dan siap dibiayai. Itu dilakukan secara bertahap,” ujarnya.
 
Emma mengatakan proyek yang paling dekat saat ini yaitu proyek 24 jalan tol yang sedang dikaji ulang oleh BPJT. Salah satunya proyek jalan tol Cikampek-Palimanan, Jawa Barat.
 
“Masih ada gap atau ruang bagi IIF untuk masuk mendanai proyek-proyek infrastruktur bersama perbankan. Kami masuk melalui sinergi dengan lender,” ujarnya. 
 
Dia mengatakan sejumlah proyek infrastruktur dapat menjadi objek pembiayaan terkait rencana penarikan pinjaman untuk PT IIF. Antara lain infrastruktur transportasi, jalan, pengairan, air minum, air limbah, telekomunikasi, ketenagalistrikan, minyak dan gas bumi, serta infrastruktur lainnya. (ln)
 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top