BI diminta pertimbangkan rezim devisa bebas

JAKARTA : Pemerintah mengingatkan Bank Indonesia untuk mempertimbangkan rezim devisa bebas yang dianut oleh Indonesia sebelum memberlakukan aturan penempatan dana hasil ekspor di perbankan domestik.Hatta Rajasa, Menteri Koordinator bidang Perekonomian,
- Bisnis.com 13 September 2011  |  17:55 WIB

JAKARTA : Pemerintah mengingatkan Bank Indonesia untuk mempertimbangkan rezim devisa bebas yang dianut oleh Indonesia sebelum memberlakukan aturan penempatan dana hasil ekspor di perbankan domestik.Hatta Rajasa, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, mengatakan sah-sah saja jika Bank Indonesia berpikir untuk menarik dana-dana hasil ekspor yang terparkir di luar negeri ke Tanah Air. Namun, BI selaku otoritas moneter perlu juga memperhatikan kesesuaian kebijakan tersebut dengan rezim devisa bebas yang selama ini berlaku di Indonesia.“(Pemikiran BI) itu bisa saja. Cuma yang penting itu, kita bukannya melarang (penempatan devisa ekspor di luar negeri) karena rezimnya kan devisa bebas,” kata dia di kantornya, hari ini.Intinya, tegas Hatta, pemerintah tidak akan mencampuri kewenangan Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter. Akan tetapi, dia berpendapat sudah seharusnya eksportir menempatkan dana hasil penjualan bahan baku atau komoditas lokal pada perbankan domestik.“Hendaknya para eksportir kita itu memarkir uangnya di dalam negeri. Sah-sah saja kita meminta itu, wong barangnya di dalam negeri. Kalau kita minta parkir di sini, gunakan ini, itu bisa saja,” kata dia.Seperti diketahui, Bank Indonesia pada akhir bulan ini akan mengeluarkan peraturan yang mewajibkan devisa hasil ekspor dan utang luar negeri disimpan dalam bank domestik. Kebijakan itu dilakukan untuk memperkuat likuiditas valuta asing di Tanah Air dan mendukung stabilitas rupiah. Saat ini, rencana peraturan BI tersebut sedang dibahas bank sentral bersama Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta Badan Pusat Statistik (BPS).(api) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top