Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar motor non-Jepang di Jawa masih rendah

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 05 September 2011  |  18:46 WIB

 

BANDUNG : Pasar motor merek non Jepang di wilayah Pulau Jawa dinilai masih rendah menyusul kondisi konsumen kendaraan roda dua masih trauma dengan banjir motor China pascakrisis moneter 1998 silam.
 
General Manager Marketing PT Triangle Motorindo (prinsipal Viar Motor) Akhmad Zafitra Dalie mengatakan, pola pikir masyarakat di wilayah Jawa masih mengacu kepada sepeda motor buatan Jepang yang didominasi merek tertentu, sehingga kehadiran label baru di luar pakem merek itu diasosiasikan sebagai motor China yang memiliki kualitas kurang bagus.
 
"Penjualan sepeda motor di luar merek tertentu buatan Jepang masih sulit berkembang secara pesat karena sejak krisis moneter 1998 lalu, masih terjadi negative market di daerah Jawa," katanya Bisnis hari ini.
 
Kondisi tersebut, membuat sepeda motor yang diproduksi di luar merek Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki, cukup sulit untuk melakukan ekspansi pasar, karena masyarakat masih mengutamakan produk keluaran empat pabrikan tersebut.
 
Dia menjelaskan, meskipun sepeda motor di luar merek-merek tadi memiliki spesifikasi yang sama dan harga jual yang lebih murah, masyarakat Jawa pasti menempatkannya sebagai pilihan selanjutnya setelah merek pemegang pasar mayoritas tadi.
 
Situasi itu lantas membuat Viar lebih banyak diserap di kawasan luar Jawa, yang selama ini kurang menjadi perhatian produsen sepeda motor lainnya.
 
Mengutip data yang dimiliki Viar, market share Jawa hanya 26,2% per semester I 2011 dengan total penjualan sebanyak 13.461 unit. 
 
Angka ini menunjukan grafik negatif sebesar minus 9,6% jika dibandingkan dengan realisasi penjualan periode yang sama tahun lalu sebanyak 14.889 unit.
 
Share terbesar justru terjadi di wilayah Sumatra yang mencapai 43,6% atau realisasi sebanyak 22.428 unit. Angka ini tumbuh 86,2% jika dibandingkan tahun lalu sebanyak 12.042 unit.
 
Pertumbuhan tertinggi justru terjadi di Kalimantan sebesar 167,4% dari 1.624 unit menjadi 4.342 unit, dan kawasan kepulauan yang tumbuh 113,9% dari 1.200 unit di akhir Juni 2010 menjadi 2.567 unit per periode yang sama tahun ini.
 
Selain Jawa, wilayah Sulawesi juga mengalami pertumbuhan negative yang lebih parah dengan angka minus 45,5% dari 15.833 unir di akhir semester I 2010, menjadi 8.632 unit di akhir semester I 2011.
 
"Tapi, pasar di Jawa masih sangat besar karena konsumen di Jawa selalu memiliki segemntasi khusus bagi setiap sepeda motor yang keluar, sehingga pasar yang terbentuk sangatlah beragam," jelas dia.
 
Dari tiga kawasan utama di Jawa yang menjadi pasar primer Viar yakni JAbar, Jateng, Jatim, hanya JAtim saja yang menunjukan pertumbuhan positif selama semester pertama tahun ini, dengan  growth sebesar 1,2% dari 6.051 unit di akhir Juni 2010, menjadi 6.123 unit di akhir Juni 2011.
 
Adapun,Jabar mengalami pertumbuhan negative terbesar yang mencapai minus 43,6% dari 3.352 untit menjadi 1.891 unit, sementara Jateng minus 9,6% dari 5.266 unit menjadi 4.761 unit.
 
Meski demikian, secara keseluruhan penjualan Viar di akhir semester I 2011 mampu tumbuh sebesar 12,8% dari realisasi per Juni  2010 sebanyak 45.588 menjadi 51.430 unit di akhir Juni 2011.
 
Jika menggabungkan data yang dimiliki Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) dan angka yang dikeluarkan Viar, posisi Viar berada di urutan keempat dengan market share 1,25%, di bawah Honda (50,92%/2,100 juta unit), Yamaha (40,14%/1,655 juta unit), dan Suzuki (6,20%/255.186 unit).
 
"Kami berharap pada waktu yang tersisa tahun ini bias tetap mempertahankan target penjualan kami sebanyak 126.000 unit atau naik 24% dari realisasi tahun lalu, meskipun hingga akhir semester I 2011 realisasi penjualan kami baru 41% dari target sepanjang tagun," tukas dia. (sut)
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Irvan Christianto

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top