Jaringan seluler masih harus ditambah

Telepon, SMS, dan mengakses situs jejaring sosial sudah menjadi kebiasaaan harian, tidak hanya bagi penduduk lingkungan perkotaan dan didominasi usia angkatan kerja. Kegiatan tersebut kini juga telah menjadi bagian hidup keseharian anak usia sekolah
News Editor
News Editor - Bisnis.com 30 Desember 2010  |  07:37 WIB

Telepon, SMS, dan mengakses situs jejaring sosial sudah menjadi kebiasaaan harian, tidak hanya bagi penduduk lingkungan perkotaan dan didominasi usia angkatan kerja. Kegiatan tersebut kini juga telah menjadi bagian hidup keseharian anak usia sekolah dasar di kabupaten atau pinggiran kota.

Salah satu contohnya dapat dengan jelas terlihat dalam rangkaian ekonomi kereta rel listrik (KRL) Jakarta-Bogor. Setiap pagi beberapa gerombol anak sekolah dasar sibuk SMS dan menelepon sembari menunggu kereta datang di stasiun kereta api Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Mereka menggunakan kereta menuju sekolahnya di Bogor. Salah satu anak bernama Arifin mengaku sudah mengenal ponsel dan internet sejak dua tahun lalu, atau kelas 3 SD. Ponsel diberikan oleh orangtuanya yang bekerja di Jakarta.

Internet saya tahu dan belajar dari teman, awalnya untuk main game, sekarang Facebook atau kadang mencari tugas sekolah. Biasanya buka Facebook dari ponsel, kalau main game online baru di warnet, ujarnya.

Arifin mengaku lebih senang mengakses Internet dari ponsel karena mudah dan murah, apalagi orangtuanya memberikan pulsa langganan data harian. Hal tersebut membantunya mengakses berbagai hal di dunia maya melalui ponsel keluaran sebuah vendor global yang harganya hanya Rp1 jutaan per unit.

Mengenai konten porno, Arifin mengaku tidak bisa mengaksesnya dari ponsel karena langganan paket data dari orangtuanya terbatas kuotanya. Hanya satu duka yang dirasakannya, yaitu ketika sinyal tiba-tiba jelek.

Bocah kelas ini hanya tahu akses internet dari ponselnya tiba-tiba sering error atau bahkan mati. Dia kurang paham dengan istilah trafik sedang padat, jaringan terganggu,dan lain sebagainya. Namun dia tahu, ponsel dan nomornya belum bisa menerima sinyal di semua wilayah di Jawa Barat.

Hal ini diketahuinya ketika mengunjungi rumah kerabat di Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Ternyata tidak semua operator seluler ada sinyal di daerah tersebut. Ayahnya pun menerangkan bahwa masih banyak daerah seperti itu.

Melayani nusantara

Operator seluler di Indonesia memang banyak yang mengklaim telah melayani jaringan se-Indonesia hingga berbagai pelosok desa, namun pada kenyataannya masih ada ruang yang belum terjangkau sinyal.

Kondisi geografis Indonesia memang sangat menantang, pembangunan dan mempertahankan sebuah BTS (base transceiver station) bukan perkara mudah. Ada wilayah yang sulit dijangkau karena moda transportasinya terbatas, namun, tidak sedikit alasan lainnya karena wilayah tersebut kurang ekonomis.

Bahkan di Pulau Jawa pun, masih ada lokasi yang baru berhasil dijangkau oleh satu operator, sementara operator lain merasa wilayah tersebut kurang menguntungkan dibandingkan dengan besarnya biaya membangun satu BTS.

Hal tersebut tidak akan dirasakan bagi pengguna jalur tol Cipularang dari Jakarta ke Bandung, namun ketika melakukan kegiatan di alam terbuka seperti arum jeram di beberapa desa daerah Cianjur atau Sukabumi, masih banyak lokasi di mana hanya ponsel satu atau dua operator saja yang mendapat sinyal, sisanya, SOS.

Operator telekomunikasi di Indonesia harus memiliki komitmen untuk terus membangun infrastruktur jaringan, tidak hanya meningkatkan kualitas layanan menjadi teknologi terbaru, 2G, 3G, 3,5G, 3.7G, hingga sekarang mempersiapkan diri teknologi 4G.

Pembangunan BTS masih diperlukan untuk menutup sinyal bolong, apalagi penetrasi penduduk ke daerah pinggiran terus terjadi. Potensi desa menjadi daerah wisata di Pulau Jawa meningkat dan memerlukan dukungan telekomunikasi yang memadai.

Untungnya, pembangunan BTS hingga saat ini menjadi salah satu konsentrasi operator seluler, meskipun ada juga operator seluler yang memilih meningkatkan teknologi pada jaringan yang telah ada. Pembangunan BTS memang berdampak besar bagi belanja modal perusahaan, namun di samping keuntungan dari pemakaian, pembangunan menara dan BTS juga masih bisa disewakan kepada operator lain yang ingin memperluas jangkaun jaringan tanpa perlu membangun BTS sendiri.

Salah satu contohnya XL, operator seluler yang kini menjadi posisi kedua dalam industri. Jumlah BTS yang dimilikinya tahun lalu masih kalah dibandingkan dua operator besar lainnya, namun tahun ini berhasil melewati salah satunya dengan hampir 22.000 BTS teknologi 2G dan 3G. Operator ini juga bekerjasama dengan operator seluler lainnya yang ingin memperluas jangkaunnya di luar Pulau Jawa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top