Impor beras lebih sulit dilakukan

JAKARTA: Opsi impor beras tahun depan untuk menjaga pasokan pangan dalam negeri akibat fenomena anomali cuaca diperkirakan tidak akan mudah.Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan negara-negara eksportir beras seperti Vietnam dan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 29 Desember 2010  |  07:30 WIB

JAKARTA: Opsi impor beras tahun depan untuk menjaga pasokan pangan dalam negeri akibat fenomena anomali cuaca diperkirakan tidak akan mudah.Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan negara-negara eksportir beras seperti Vietnam dan Thailand diperkirakan akan mengerem laju ekspor beras pada tahun depan.Pasalnya, mereka pun berupaya mengutamakan ketersediaan beras untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka terlebih dahulu.Saya baru dari Hanoi, ada semacam sinyal bahwa tidak mudah lagi bagi kita untuk impor beras lagi karena Vietnam dan Thailand sekarang mengerem ekspor beras karena anomali musim di sana, kata Rusman ketika ditemui usai menandatangani MoU akses data dengan Badan Pemeriksa Keuangan, hari ini.Rusman mengatakan negara-negara itu juga harus memperkuat cadangan berasnya. Hal ini, tuturnya, merupakan sinyal bagi Indonesia bahwa tidak akan mudah impor beras tahun depan.Dampaknya, tutur dia, tidak ada jalan lain untuk menjaga ketersediaan beras dalam negeri selain memaksimalkan produksi beras domestik.Lalu bagaimana upaya menjaga suplai tanpa harus impor. Usahanya adalah all out meningkatkan produksi beras dalam negeri, tidak ada jalan lain, katanya.Di sisi lain, ketersediaan beras domestik perlu dipenuhi demi menjaga stabilitas harga. Selama ini, inflasi yang terjadi kebanyakan disumbang oleh kenaikan harga beras.Namun, Rusman menegaskan laju inflasi pada dasarnya tidak dapat dihindari seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi domestik.Memang banyak teori mengatakan inflasi itu musuh negara. Tapi kalau kita melihat anglenya cuma dari inflasi yang naik, itu kurang fair juga. Inflasi naik itu bagus-bagus saja kalau melihat fakta lain bahwa ada dinamika ekonomi yang sedang berkembang, katanya.Menurutnya, kenaikan harga komoditas internasional saat ini juga dipicu oleh pemulihan ekonomi global. Pemulihan ekonomi otomatis menimbulkan ada gairah permintaan dan akibatnya harga komoditas pasti naik, demikian halnya di Indonesia. Jadi jangan kita bicara kita ingin pertumbuhan ekonomi 7% tapi kita ingin inflasinya di bawah 5%, katanya.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top