Industri elektronik diprediksi tumbuh 15% pada 2011

JAKARTA : Gabungan Pengusaha Elektronik Indonesia (Gabel) memprediksi industri elektronik bertumbuh 15% pada tahun depan, didorong oleh tingkat permintaan di pasar domestik.
manda
manda - Bisnis.com 27 Desember 2010  |  21:57 WIB

JAKARTA : Gabungan Pengusaha Elektronik Indonesia (Gabel) memprediksi industri elektronik bertumbuh 15% pada tahun depan, didorong oleh tingkat permintaan di pasar domestik.

Ketua Umum Gabel Ali Soebroto Oentaryo mengatakan tingkat permintaan yang tinggi dengan jumlah rumah tangga di Indonesia yang besar akan mendorong industri elektronik di pasar domestik terus bertumbuh. Selain itu, hal tersebut juga didorong oleh pertumbuhan ekonomi nasional yang diprediksi mulai membaik pada tahun depan.

Populasi kita 230 juta jiwa, saat ini penetrasi televisi sudah hampir 100% karena semua orang punya. Pada satu rumah tangga sudah memiliki lebih dari satu televisi. Kalau untuk lemari es masih 60%, mesin cuci sudah 50%, kata Ali, hari ini.

Sementara itu, GfK (Growth from Knowledge) Indonesia, perusahaan riset berskala internasional yang bermarkas di Jerman, dalam laporan market insight terbarunya menyatakan tingkat keyakinan konsume selama Oktober mengalami peningkatan 4,4 poin menjadi 112, disebabkan oleh adanya optimisme masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang. Selain itu, juga dipengaruhi perkiraan penurunan harga pada 3 bulan mendatang.

Penurunan harga pada beberapa produk home appliances memicu peningkatan penjualan akan produk ini. Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyebabkan turunnya biaya produksi dari material atau komponen yang diimpor, sehingga harga jual produk ini semakin murah, kata Guntur Sanjoyo, General Manager GfK Indonesia.

GfK mencatat tingginya permintaan akan produk air conditioner (AC) berdampak positif pada pertumbuhan penjualan produk ini. Pada Oktober, terjadi peningkatan penjualan produk AC sebesar 47% dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Kenaikan penjualan produk ini juga dipicu gencarnya program tukar tambah yang diluncurkan oleh manufaktur.

Menurut Guntur, selama 2010, LCD monitor mengalami pertumbuhan yang positif, dimana LCD di bawah 17 inci menguasai pangsa pasar sebesar 54% dan tingkat pertumbuhan 127%.

Akan tetapi dimasa yang akan datang, kami perkirakan LCD ukuran 18-21 inci akan menggantikan LCD dibawah 17 inci tersebut. Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhan yang signifikan sebesar 189%, jika kita bandingkan penjualan year to date (YTD) 2010 dengan periode yang sama 2009, papar Guntur.

Lebih lanjut, Ali memprediksikan, omzet industri elektronik di pasar domestik akan meningkat sebesar 30% pada tahun depan, dari tahun ini yang diproyeksikan mencapai Rp23 triliun. Namun, Ali mengakui belum bisa memastikan besaran omzet untuk ekspor elektronik. Dia hanya memastikan bahwa nilai ekspor produk elektronik Indonesia memang tidak terlalu besar.

Kegiatan ekspor ini, jelas Ali, lebih didorong oleh perusahaan-perusahahan elektronik dunia yang merelokasi pabriknya ke Indonesia, seperti PT LG Electronic Indonesia (LGEIN) dan PT Panasonic Corporation.

Pertumbuhan ekspor elektronik tidak terlalu bagus. Belum ada perubahan ekosistemnya,kata Ali.

Ali mengungkapkan pada tahun depan belum ada lagi rencana relokasi pabrik elektronik asing ke Indonesia. Setidaknya, masih ada beberapa kendala yang harus diperbaiki oleh pemerintah seperti fleksibilitas Undang-Undang (UU) No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan dan infrastruktur khuusnya persoalan pembebasan tanah.

Terkait pasokan listrik, Ali menegaskan hal tersebut tidak lagi menjadi hambatan dalam pertumbuhan industri elektronik nasional pada tahun depan. Pasalnya, PT PLN (Persero) sudah menjamin adanya tambahan pasokan listrik bagi sektor industri dan bisnis.

Ada satu pabrik di wilayah Jawa Barat yang meminta pasokan listrik sebesar 230 megawatt (MW), langsung diberikan oleh PLN. Sedangkan untuk masalah pembebasan tanah, itu lebih kepada implementasi undang-undang.

Ali kembali menekankan pentingnya bagi pemerintah untuk melakukan fleksibilitas pada UU No.13/2003 mengingat Indonesia memiliki keuntungan komparatif yakni tenaga kerja.

Dia menuturkan dominasi produk elektronik impor masih menjadi masalah bagi pasar domestik. Dia mengakui produk buatan dalam negeri pada saat ini hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sebesar 30%.

Pertanyaannya bagaimana mengisi kebutuhan pasar domestik dengan produk buatan dalam negeri?, tukas Ali.

Menurut Ali, berbagai kebijakan pemerintah seperti labelisasi produk dalam bahasa Indonesia, Peraturan Menteri Perdagangan No.39, dan penerapan standard nasional Indonesia (SNI) secara wajib, sejauh ini mampu menekan impor.

Kebijakan pemerintah yang non tarif barrier tersebut hanya menghambat, bukan melarang impor. Jadi otomatis impor akan sulit masuk, ujarnya.

Mulai April, kebijakan SNI wajib baru diterapkan pada produk televisi cembung, pompa air, dan seterika. Sedangkan pada tahun depan, SNI wajib akan diterapkan pada produk mesin cuci, lemari es, dan AC. (ln)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top