Penggunaan perangkat listrik lokal belum optimal

manda
manda - Bisnis.com 21 Desember 2010  |  09:16 WIB

JAKARTA: Penerapan Instruksi Presiden No.2/2009 tentang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dinilai belum optimal. Setidaknya, perangkat kelistrikan seperti trafo dan jaringan transmisi listrik pada proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 10.000 megawatt (MW) tahap I masih menggunakan produk impor.

Hemant Lakhotiya, Presiden Direktur PT CG Power System Indonesia, produsen trafo listrik, mengatakan pasar dalam negeri untuk produk trafo listrik masih mendapat ancaman dari China dan Korea Selatan, karena pembangunan proyek PLTU 10.000 MW oleh PT PLN (Persero) masih menggunakan produk impor, khususnya dari China.

Perangkat kelistrikan seperti trafo yang dipergunakan oleh PLN masih diimpor dari China. Padahal produsen lokal telah mampu memproduksi produk dengan kualitas yang lebih baik. Seharusnya pemerintah lebih banyak memakai produk dalam negeri. Pemerintah bisa menghemat devisa negara melalui pengurangan impor barang sejenis dari negara lain, katanya, hari ini.

Ahmad Hadi Sucipto, Area Sales Manager CG Power System Indonesia, menambahkan apabila penggunaan produk dalam negeri meningkat, industri dalam negeri akan berkembang sehingga memberi keuntungan bagi industri kecil di dalam negeri.

Industri trafo memiliki karakteristik mampu menyerap ratusan tenaga kerja karena tidak dapat digantikan oleh sistem otomasi (robot), padat modal, dan padat teknologi. "Kehandalan produk dan desain kami telah diakui internasional, ujarnya.

Ditemui terpisah, Presiden Direktur PT Japan AE Power Syste Indonesia (JAEPSI) Shunji Ito mengatakan meski Inpres No.2 telah diluncurkan pada 2009, tetapi implementasi P3DN sejauh ini masih jalan di tempat. Ini karena sejumlah proyek pengadaan oleh badan usaha milik negara (dan instansi pemerintah masih banyak menggunakan produk impor.

Proyek pengadaan oleh pemerintah belum mengutamakan produk dalam negeri. Untuk proyek PLTU 10.000 MW misalnya, produk-produk pembangkitnya banyak menggunakan produksi dari China, kata Shunji. JAEPSI merupakan produsen switch gear, perangkat kelistrikan untuk pembangkit yang memiliki pabrik di Cikarang, Jawa Barat.

Shunji menuturkan saat ini baru sektor migas yang melaksanakan ketentuan P3DN dengan baik. Apabila perusahaan dan BUMN lain berkomitmen mengimplementasikan ketentuan P3DN dengan baik, Shunji meyakini industri pendukung di dalam negeri akan berkembang dengan signifikan. (hl)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top