Konstruksi pembangkit listrik prospektif

JAKARTA: Pelaku lembaga pembiayaan sektor infrastruktur menilai proyek pembangkit listrik skala kecil pada tahun depan lebih prospektif dalam pelaksanaan pembangunan konstruksinya karena minimnya kebutuhan lahan.
Rachman | 20 Desember 2010 12:42 WIB

JAKARTA: Pelaku lembaga pembiayaan sektor infrastruktur menilai proyek pembangkit listrik skala kecil pada tahun depan lebih prospektif dalam pelaksanaan pembangunan konstruksinya karena minimnya kebutuhan lahan.

Dirut PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI)Emma Sri Martini mengatakan sebagian besar kendala yang menghambat pelaksanaan pembangunan infrastruktur yaitu persoalan pembebasan lahan akibat belum adanya regulasi yang mengaturnya.

Untuk itu, lanjut dia proyek-proyek infrastruktur yang kebutuhan tanahnya minim dinilai lebih prospektif dan menarik untuk dibiayai karena realisasi pembangunannya akan lebih cepat yang tentunya berpengaruh pada tingkat pengembalian pinjaman.

Ke depan proyek-proyek infrastruktur yang kebutuhan tanahnya minim, akan lebih prospektif mengingat kendala pengadaan lahan yang masih menjadi hambatan pembangunan konstruksi infrastruktur hingga saat ini, katanya kepada Bisnis.

Dia menilai tantangan proyek infrastruktur kedepan adalah untuk proyek-proyek yang tingkat kebutuhan tanahnya besar seperti jalan dan pengolahan air minum karena selain regulasi lahan belum ada, kelompok proyek tersebut biasanya lintas sektoral yang relatif rumit prosedurnya.

Sementara itu, pembangkit listrik skala kecil (mini hidro) dengan kapasitas sekitar 10 mega watt-15 mega watt, dengan penggunaan tehnologi baru sehingga relative sedikit kebutuhan pengadaan lahannya.

Proyek yang menarik itu yang pengadaan tanahnya tidak banyak, kalau mini hidro itu kan cenderung pengadaan tanahnya sedikit, hanya menggunakan tehnologi untuk mengolah aliran sungai untuk menjadi energi, ujarnya.

Dia menilai dengan dasar pertimbangan itu, pihaknya mengalokasikan 57% modalnya untuk prioritas pengembangan proyek infrastruktur pembangkit listrik dan pelabuhan pada 2011 menyusul realisasi penambahan modal negara sebesar Rp1 triliun.

Dari total anggaran tersebut Rp275 miliar dialokasikan untuk pembiayaan 25 proyek pembangkit listrik dan Rp300 miliar lainnya untuk pembiayaan 6 proyek pelabuhan, sisanya hampir merata di 13 proyek infrastruktur lainnya seperti jalan tol, air bersih, rel kereta api, serta minyak dan gas.

Untuk unit proyeknya banyak di pembangkit listrik berkapasitas kecil sedangkan untuk anggarannya 30% untuk pembiayaan proyek pelabuhan, ujarnya.

Ketua Umum Badan Pimpinan Pusat Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Soeharsojo mengatakan proyek infrastruktur pembangkit listrik memang lebih prospektif dalam hal penyerapan anggaran dan pembangunan proyek terutama karena tidak terlalu banyak membutuhkan pembebasan lahan.

Proyek pembangkit listrik juga potensial seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi di masa mendatang, khususnya untuk mendukung pertumbuhan pembangunan perumahan dan industri, apalagi dengan adanya proyek 10.000 mega watt oleh pemerintah.

Kebutuhan energi ke depan akan terus meningkat, hal ini tentunya membutuhkan suplay yang memadai, untuk itu pembangunan infrtastruktur pembangkit listrik terus dipacu, ujarnya.

Meski demikian, pembangunan infrastruktur harus tumbuh bersamaan karena pada prinsipnya saling mendukung seperti jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, air minum dan listrik, khususnya di daerah-daerah yang belum terjangkau pelayanannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top