Penggunaan komponen lokal di sektor hulu migas baru 40%

JAKARTA: Pemanfaatan komponen dalam negeri di sektor hulu migas terutama yang dikendalikan oleh kontraktor kontrak kerja sama relatif masih rendah, yaitu hanya 40% dari total nilai pengadaan yang mencapai US$6,58 miliar per Oktober 2010.
News Editor | 15 Desember 2010 08:40 WIB

JAKARTA: Pemanfaatan komponen dalam negeri di sektor hulu migas terutama yang dikendalikan oleh kontraktor kontrak kerja sama relatif masih rendah, yaitu hanya 40% dari total nilai pengadaan yang mencapai US$6,58 miliar per Oktober 2010.

Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi R. Priyono mengatakan dari total kegiatan pengadaan yang dilakukan oleh BP Migas, tingkat komponen dalam negeri sudah mencapai 64%.

Persentase tersebut, menurut dia, lebih besar dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang mencapai 58%.

Hanya saja, tuturnya, perkembangan kurang mengembirakan justru terjadi untuk kegiatan pengadaan barang yang dilakukan langsung oleh KKKS. Dia mengungkapkan hingga periode yang sama TKDN hanya sekitar 40%.

Ini menunjukkan BP Migas kini lebih perhatian terhadap TKDN dibandingkan dengan KKKS itu sendiri. Peningkatan TKDN itu tentu saja dipengaruhi oleh meningkatkan kompetensi perusahaan lokal dan juga tidak lepas dari faktor perhatian pelaksana tender itu sendiri, paparnya hari ini.

BP Migas menargetkan pemanfaatan TKDN tahun ini bisa mencapai 70% dari total nilai pengadaan barang dan jasa yang nilainya sekitar 70% dari total nilai cost recovery yang tahun ini dipatok pada level US$12,19 miliar.

Deputi Pengendalian Keuangan BP Migas Wibowo S. Wirjawan mengatakan total realisasi cost recovery hingga kuartal ketiga 2010 telah mencapai US$7,7 miliar.

Nilai antara pengadaan oleh KKKS dan BP Migas sekitar 50%:50%. KKKS itu walaupun nilainya di bawah US$5 juta, proyeknya banyak sehingga akumulasi cukup besar juga, ungkapnya.

Sumber Bisnis menyebutkan hingga Oktober nilai pengadaan barang dan jasa hulu migas telah mencapai US$6,58 miliar. Dari total nilai tersebut, US$1,7 miliar merepresentasikan TKDN sebesar 59% dari total nilai pengadaan barang.

Adapun untuk pengadaan jasa nilai TKDN-nya mencapai US$2,5 miliar atau 68% dari total nilai pengadaan jasa. Tetapi komposisinya di KKKS berapa dan BP Migas berapa itu belum dirinci, katanya.

Priyono menambahkan selain soal rendahnya perhatian pelaksana tender, kecilnya tingkat TKDN dalam kegiatan pengadaan oleh KKKS juga disebabkan oleh preferensi dari pelaksana tender itu sendiri. Terkadang, lanjutnya, barang-barang buatan dalam negeri cenderung lebih mahal dibandingkan dengan produk impor.

KKKS selalu mencari yang lebih murah dan yang penting memenuhi spesifikasi dan standar. Selama ini pengadaan oleh KKKS banyak diimpor dari tiga kawasan, Amerika, Eropa dan juga China. China bisa masuk karena mereka bisa bersaing dari harga walaupun kualitasnya tidak lebih baik dari Amerika dan Eropa, paparnya. (hl)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top