Perekonomian nasional tumbuh 6,3%

DENPASAR, Bali: Perekonomian nasional yang diperkirakan tumbuh sekitar 6,3% pada 2011 kendati belanja infrastruktur masih menjadi kendala.
News Editor | 12 Desember 2010 05:37 WIB

DENPASAR, Bali: Perekonomian nasional yang diperkirakan tumbuh sekitar 6,3% pada 2011 kendati belanja infrastruktur masih menjadi kendala.

Ekonom A Tony Prasetiantono, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM memprediksi pada tahun depan Indonesia menghadapi tiga isu yang berpengaruh terhadap preakonomian yakni perang kurs, kemungkinan krisis global berikutnya, dan lambatnya pembangunan infrastruktur dalam negeri.Pada kondisi seperti itu inflasi bakal menyentuh angka 6% dan estimasi produk domestik bruto [PDB] sebesar 6,3%, katanya, akhir pekan ini.Dia mempredikasi pada tahun 2011 sejumlah negara Eropa dan Amerika masih dirundung persoalan ekonomi dan sengaja akan melemahkan nilai mata uangnya. Bahkan Amerika Serikat menempuh kebijakan ekstrem dengan mencetak uang sebesar US$600 miliar.Menurut Tony tidak ada yang bisa menjamin AS tidak mencetak uang lagi di tahun-tahun mendatang. Padahal, Cina dengan pertumbuhan ekonomi di atas 10% akan tetap melemahkan nilai tukar mata uangnya. Dia mengatakan Cina sudah nyaman dengan kondisinya sekarang mengingat pertumbuhan ekonomi dan cadangan devisa menjadi kekuatan negara tersebut dalam mempertahankan nilai tukar yuan pada angka rendah.Dia menilai krisis dunia yang menimpa negara-negara Eropa dan Amerika hingga kini sudah mengalami perbaikan, namun belum bisa terselesaikan dengan nyata. Ekonomi negara ini masih tetap tergoncang, kondisi ini tentu akan menjadi persoalan global yang akan mempengaruhi ekonomi Indonesia pada 2011.Persoalan ketiga yang dihadapi Indonesia adalah minimnya belanja infrastruktur. Tony mencontohkan belanja infrastruktur Cina 10%, Vietnam 8%, India 4,5%, Laos 4%, sedangkan Indonesia hanya 2%. Menurut dia idealnya belanja infrastruktur minimal 5% untuk mendorong bertumbuhnya ekonomi di segala bidang.Kendati banyak kendalapada2011, namun Tony menilai Indonesia memiliki modal yang kuat dengan nilai tukar yang kuat dan stabil. Dia mengungkapkan pada 2011 nilai tukar rupiah diprediksi dikisaran Rp9.000-9.200 per dolar.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top