Pasangan muda topang konsumsi

JAKARTA: Pasangan eksekutif muda di kawasan kota besar menjadi kekuatan ekonomi baru dalam 2-3 tahun mendatang untuk mengkonsumsi barang dan jasa.
Ria Indhryani
Ria Indhryani - Bisnis.com 09 Desember 2010  |  11:11 WIB

JAKARTA: Pasangan eksekutif muda di kawasan kota besar menjadi kekuatan ekonomi baru dalam 2-3 tahun mendatang untuk mengkonsumsi barang dan jasa.

Segmen pasar yang potensial tersebut menjadi keharusan bagi para produsen untuk lebih diperhatikan, mengingat daya beli mereka sangat tinggi dan membutuhkan akselerasi yang tinggi pula seiring membaiknya perekonomian di Tanah Air.Menurut Yudi Suryanata, Consumer Research Executive Director Nielsen Indonesia, pasangan muda profesional ini adalah kekuatan ekonomi baru Indonesia di masa mendatang dan penggerak dari kekuatan konsumen di negeri ini.Potensi bisnis saat ini adalah permintaan laten dan baru, sehingga diperlukan fokus pada kebutuhan yang baru pula dan pasangan eksekutif muda harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pemasaran produk barang dan jasa dalam tahun-tahun mendatang, katanya usai paparan Marketing and Media Presentation 2010, kemarin.Pasangan suami istri yang bekerja profesional, khususnya di kota-kota besar rata-rata memiliki penghasilan minimal setiap bulan sebesar Rp20 juta dan pertumbuhan jumlah mereka dari tahun ke tahun cukup tinggi.Rata-rata tingkat usia pasangan ini antara 25 tahun hingga 40 tahun dengan mayoritas waktu luangnya dilakukan di luar rumah dan kebutuhan reguler mereka berupa rumah, pakaian, alat transportasi dan komunikasi di atas rata-rata harga pada umumnya.Untuk itu, Yudi menilai para produsen harus membuat cara pemasaran yang berbeda untuk pasangan eksekutif muda ini dengan pola pemasaran konsumen muda lainnya berdasarkan kebutuhan akan produk barang dan jasa.Segmen potensial yang harus didekati oleh para produsen ini memang mayoritas tinggal di wilayah urban atau perkotaan, sedangkan di kawasan kota-kota kecil meskipun ada tapi kuantitasnya masih sangat terbatas, apalagi di pedesaan belum banyak terjamah oleh kebutuhan konsumtif, tuturnya.Yudi menyampaikan tujuh kunci pemasaran untuk menjangkau segmen konsumen dengan karakter yang berbeda dengan segmen pada umumnya ini, yakni memperhatikan kualitas sebagai faktor utama.Selain itu, produsen harus melihat ketersediaan membayar pasangan eksekutif muda ini lebih untuk kenyamanan dan sangat peduli dengan konsep modernitas, liberal, serta menaruh perhatian pada merek dengan pilihan desain yang serasi.Kunci pemasaran yang juga harus diperhatikan para produsen adalah tentang pendekatan media yang berbeda dengan pemasaran dalam jaringan [online] dan komunikasi pemasaran yang meyakinkan oleh para pelaku bisnis, ungkapnya.Sementara itu, Indonesia akan semakin kompetitif untuk bisnis barang dan jasa dalam beberapa tahun ke depan, sehingga sangat penting bagi pelaku bisnis untuk memahami secara mendalam ragam permintaan konsumen saat ini.Catherine Eddy, Managing Director Nielsen Indonesia menyatakan konsumen Indonesia tengah bangkit dan konektivitas menjadi bagian besar dari tren persaingan bisnis barang dan jasa ini.Banyak produsen sering merasa mengenal konsumen dengan baik, padahal belum tentu barang dan jasa yang beredar sesuai dengan keinginan konsumen, sehingga dibutuhkan perhatian yang lebih intensif dari produsen, ujarnya.Menurut dia, konsumen di Indonesia saat ini memegang kendali atas waktu, kenyamanan dan kebebasan yang membutuhkan perhatian lebih dari para pemilik barang dan jasa.Bagi kalangan perusahaan yang fokus memahami dan memenuhi permintaan konsumen secara lebih mendalam dibandingkan kompetitornya, maka akan tumbuh lebih cepat, jelasnya.Dia menambahkan cara tersebut harus dipergunakan, karena sebagian besar masyarakat Indonesia atau skeitar 93% dari penduduk yang ada saat ini menganggap berbelanja adalah hiburan.Akibatnya, Catherine menilai memahami teknologi akan turun mendorong revolusi konsumen dnegan senantiasa membangun visi di sekitar kebutuhan pasar yang berubah-ubah.Komitmen untuk memahami dan bertindak dalam kegiatan konsumsi virtual, seperti belanja online sangat perlu menjadi perhatian para produsen barang dan jasa.Untuk itu, diperlukan kerja kerja antara perusahaan media, pengecer dan industri manufaktur untuk melayani permintaan secara presisi, tukasnya. (mfm)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top