Bisnis.com, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance/Indef menilai kebijakan tarif resiprokal dari Donald Trump terhadap Indonesia akan berdampak moderat terhadap pertumbuhan ekonomi.
Peneliti Center of Industry, Trade, and Investment Indef Ahmad Heri Firdaus menyampaikan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi di beberapa negara Apalagi negara-negara yang cukup bergantung pada seberapa besar perdagangan dengan AS.
Dalam skenario yang Heri paparkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan tergerus sebesar 0,05%.
“Tidak terlalu besar [dampaknya], kenapa? Karena kita masih cukup banyak berdagang dengan negara-negara lain Seperti India, China, Uni Eropa, ASEAN sendiri Kita cukup banyak,” ujarnya dalam Diskusi Publik Indef: Waspada Genderang Perang Dagang, Jumat (4/4/2025).
Untuk diketahui, tarif resiprokal adalah tarif atau pajak yang dikenakan oleh suatu negara terhadap barang impor dari negara lain sebagai bentuk timbal balik atas tarif yang sebelumnya dikenakan oleh negara tersebut terhadap barang ekspor dari negara asal.
Produk-produk Indonesia sendiri dikenai tarif timbal balik sebesar 32%. Padahal, sebelumnya hanya 10%—bahkan beberapa barang konsumsi sepenuhnya bebas bea masuk karena Indonesia menikmati fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) yang diberikan oleh pemerintah AS kepada negara-negara berkembang.
Baca Juga
Heri membandingkan dengan negara-negara yang terkena tarif resiprokal lainnya, Vietnam menjadi negara yang paling terdampak karena akan memangkas pertumbuhan ekonominya hingga 0,84%.
Kemudian diikuti China dengan penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,61%, Thailand sebesar -0,35%, serta Malaysia sebesar -0,11%.
Bagi Indonesia sendiri, kata Heri, memang tidak terlalu besar efek langsungnya. Melihat dari sisi kinerja ekspor, diperkirakan hanya akan berkurang 2,8% dan 2,2% untuk import.
Meski demikian, secara umum Heri menilai dampak pengenaan tarif terhadap perubahan ekspor di beberapa sektor ini memang cukup banyak terpukul untuk produk unggulan ke AS, seperti mesin dan perlengkapan elektrik, tekstil, serta besi baja.
“Jadi memang produk-produk yang selama ini menjadi unggulan ekspor ke AS ini adalah produk-produk yang nantinya akan diprediksi mengalami penurunan cukup besar,” lanjutnya.
Heri menjelaskan bahwa efek langsung memang akan moderat, justru dampak tidak langsung yang patut diwaspadai.
Pada kesempatan yang sama, Ekonom Senior Indef Tauhid Ahmad justru melihat adanya potensi koreksi pertumbuhan ekonomi bakal lebih besar dari 0,05%.
“Saya yakin bisa lebih besar kalau [termasuk] hitungan indirect impact. Jadi kita tidak bisa menikmati kemegahan surplus perdagangan terhadap Amerika,” tuturnya.
Pangsa Ekspor ke AS Minim
Indonesia sendiri termasuk ke dalam 20 besar negara yang menikmati surplus dari AS. Per 2024, Indonesia mengalami surplus US$19,3 miliar dengan AS atau berada di posisi ke-15.
Sementara hingga Februari 2025, AS menjadi negara penyumbang surplus kumulatif terbesar senilai US$3,14 miliar. Di mana komoditas yang memberikan surplus adalah Mesin dan Perlengkapan Elektrik serta bagiannya (HS 85) senilai US$577 juta.
Adapun pangsa ekspor RI ke AS pada Februari 2025 sebesar 11,26%—yang disebut Heri tidak terlalu besar ketimbang negara lainnya—atau berada di posisi kedua setelah China yang mencapai 20,6%.
Pangsa ekspor Indonesia lainnya yakni ke India sebesar 7,93%, Asean mencapai 21,71%, Uni Eropa dengan pangsa 7,16%, serta negara lainnya sebesaar 31,34%.
Sebelumnya pun, Bank Dunia mewaspadai adanya risiko pelemahan ekonomi global maupun negara berkembang seperti Indonesia, sebagai efek dari kebijakan tarif Donald Trump.
Dalam laporan Global Economic Prospects (GEP) edisi Januari 2025, melaporkan hasil simulasi sebuah model makroekonomi global digunakan untuk mengkalibrasi kemungkinan implikasi kenaikan tarif AS.
Pertumbuhan akan lebih lemah sebesar 0,1% setiap kenaikan tarif sebesar 10% tersebut untuk negara berkembang (emerging market and developing economies/EMDE)—di mana Indonesia termasuk ke dalam kategori tersebut.