Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

The Fed Tunda Pangkas Suku Bunga, Ini Efeknya ke Berbagai Negara

The Fed telah memberi sinyal bahwa membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memangkas suku bunga. Hal ini berdampak bagi negara-negara lainnya.
Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell berbicara dalam konferensi pers setelah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di Washington, DC. / Bloomberg
Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell berbicara dalam konferensi pers setelah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di Washington, DC. / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) dan kelompok global yang luas telah berpendapat bahwa tahun ini akan menjadi tahun penurunan suku bunga. Namun, ekspektasi tersebut kini telah memudar dengan cepat dan berdampak bagi negara lainnya. 

Ketua The Fed Jerome Powell telah mengisyaratkan bahwa para pengambil kebijakan akan menunggu lebih lama dari perkiraan sebelumnya untuk menurunkan suku bunga, menyusul serangkaian angka inflasi AS yang masih sangat tinggi. 

Bahkan, para pedagang kini hanya melihat hanya terdapat satu atau dua kali penurunan suku bunga yang terjadi pada 2023. Hal ini bahkan dinilai sebagai kekecewaan yang besar menimbang perkiraan sebelumnya. 

Adapun, beberapa investor dan ekonom mengatakan bahwa ada potensi bank sentral Negeri Paman Sam tidak akan melakukan pemotongan sama sekali pada tahun ini. 

Dengan lambatnya pelonggaran kebijakan moneter dan mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, hal ini mempunyai implikasi terhadap perekonomian AS dan juga mempengaruhi negara-negara lain di dunia. 

Diketahui jika Bank Sentral Eropa (ECB), Bank Sentral Inggris (BoE) dan Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia) terus melanjutkan siklus pelonggaran moneter mereka, hal ini berisiko menurunkan nilai mata uang mereka.

Selain itu, langkah tersebut juga dapat meningkatkan harga impor dan menghambat kemajuan dalam menurunkan inflasi. Namun jika pelonggaran tidak akan dilakukan, maka akan ada risiko bahwa pertumbuhan akan menghilang. 

Lalu ECB juga sedang merencanakan penurunan suku bunga pertama dalam pertemuan Juni 2024. Peralihan BOE untuk memangkas suku bunganya juga berpotensi memakan waktu yang lebih lama, dan para pedagang memperkirakan pemangkasan pertama akan terjadi pada musim gugur ini. 

Beralih ke Bank of Canada yang hampir memangkas suku bunga, pejabat bank sentral tersebut mengatakan bahwa ada batasan seberapa jauh dan cepat bank tersebut dapat bergerak tanpa mendapat tanda yang lebih jelas dari The Fed. 

“Risikonya adalah, semakin lama kita melihat bank-bank sentral besar menunggu untuk menurunkan suku bunga, semakin besar pula risiko terhadap perekonomian,” jelas kepala penelitian global di Citigroup Inc., Lucy Baldwin, mengutip dari Bloomberg, Sabtu (20/4/2024).

Selain itu, setiap dolar AS mengalami kenaikan, hal ini akan memberikan tekanan bagi negara-negara berkembang, terutama bagi negara yang memiliki uang dalam mata uang dolar di kala mata uang dalam negeri mereka melemah. 

Bank Indonesia (BI) telah meningkatkan suku bunganya pada Oktober 2024, setelah mengalami pelemahan mata uang yang berkepanjangan. BI mengatakan bahwa pihaknya melakukan intervensi di pasar mata uang, setelah nilai tukar melemah melampaui Rp16.000 untuk pertama kalinya dalam empat tahun. 

Kemudian, untuk negara-negara mulai dari Malaysia hingga Vietnam, para ekonom memprediksi penurunan suku bunga akan lebih sedikit. 

Di Malaysia, keputusan ini didorong oleh pemulihan momentum ekonomi yang ditunjukkan oleh data terbaru. Bank sentral Vietnam juga menjual dolar untuk mempertahankan nilai tukar mata uangnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper