Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penjualan Alat Berat Anjlok, Pengusaha Bicara Nasib 2024

PAABI memprediksi nasib 2024 sejalan dengan penurunan penjualan alat berat pada 2023.
Pekerja menggunakan alat berat beraktivitas di proyek infrastruktur milik salah satu BUMN Karya di Jakarta, Kamis (13/2/2020). Bisnis/Arief Hermawan P
Pekerja menggunakan alat berat beraktivitas di proyek infrastruktur milik salah satu BUMN Karya di Jakarta, Kamis (13/2/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA s- Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) mencatat penurunan penjualan alat berat sebesar 10,8% (year-on-year) pada 2023. Sikap konservatif pelaku usaha masih tertahan sehingga ekspansi mandek.

Berdasarkan data PAABI, penjualan alat berat tahun 2023 yakni sebesar 18.123 unit, lebih rendah dibandingkan dengan penjualan tahun sebelumnya sebanyak 20.300 unit.

Ketua Umum PAABI Etot Listyono mengatakan permintaan dari sektor pertambangan dan konstruksi masih mendominasi pasar, meskipun terdapat pelemahan serapan.

"Penjualan tahun lalu 18.123 unit, masih didominasi permintaan dari sektor mining," kata Etot, Rabu (31/1/2024).

Penjualan alat berat ke sektor tambang anjlok dipengaruhi harga batu bara yang masih di zona merah. Hal ini membuat rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) operasi tambang perlu disesuaikan.

Di sisi lain, sektor konstruksi telah mengalami penurunan biaya belanja sejak tahun pemilu. Pelaku usaha masih konservatif dan memilih untuk wait and see terhadap kebijakan mendatang.

"Proyeksi tahun 2024 turun 25%, perkiraan kami di 14.000-an unit. Target 14.000 itu pun sudah paling optimis," ujarnya.

Pemangkasan target penjualan alat berat tahun 2024 dinilai realistis melihat tren pasar saat ini. Etot menilai, siklus tahun pemilu masih menjadi penghambat terbesar selain anjloknya harga batu bara.

Sementara itu, masih ada peluang bertahan dari permintaan agroforestri yang masih stabil, meskipun dengan share market hanya 13%.

"Tahun ini itu utk alat berat yang di mining itu lebih banyak ke refreshment, yg masih stabil itu forestry agro masih sama 12-13% marketnya," pungkasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper