Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Alarm OECD Soal Dampak Pelemahan Ekonomi China hingga ke Batu Bara Cs

OECD mewanti-wanti dampak pelemahan ekonomi China yang bisa turut menyeret batu bara cs.
Seorang pembeli di sebuah toko kelontong di Beijing, China, pada hari Kamis, 4 Agustus 2022. China melaporkan penurunan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 0,3 persen yoy pada Juli 2023./Bloomberg
Seorang pembeli di sebuah toko kelontong di Beijing, China, pada hari Kamis, 4 Agustus 2022. China melaporkan penurunan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 0,3 persen yoy pada Juli 2023./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – OECD memberikan alarm terkait dampak pelemahan ekonomi China yang berisiko berdampak hingga output komoditas seperti batu bara negara Asia. 

The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa pelemahan ekonomi China yang masih berlangsung pada paruh akhir 2023 menjadi ancaman utama selain risiko geopolitik. 

Dalam OECD Economic Outlook, Interim Report September 2023, lembaga internasional tersebut melihat pelambatan ekonomi China yang lebih tajam dari perkiraan.  

Sebagai informasi, setelah pembukaan China setelah pandemi Covid-19, proyeksi ekonomi Negeri Panda terus dipangkas. Terakhir, OECD memperkirakan ekonomi China akan tumbuh 5,1 persen pada 2023, lebih rendah 0,5 persen dari ramalan OECD sebelumnya. 

Lembaga tersebut menilai kepercayaan konsumen yang lemah dan masalah-masalah yang sedang berlangsung secara signifikan di pasar properti, dengan rendahnya penjualan yang menyebabkan kekurangan likuiditas dan risiko gagal bayar bagi para pengembang real estat yang memiliki leverage yang tinggi, merupakan sumber-sumber utama yang menjadi perhatian. 

Dalam skenario OECD menunjukkan, jika dalam satu tahun permintaan domestik China menurun sekitar 3 persen, dapat secara langsung menurunkan pertumbuhan PDB global sebesar 0,6 persen. 

Ancaman tersebut semakin mengkhawatirkan dan berpotensi lebih dari 1 persen jika terjadi pengetatan kondisi keuangan global yang signifikan.  

Skenario tersebut sangat mungkin terjadi, apabila dengan asumsi konsumsi rumah tangga China turun 1 persen, investasi bisnis turun 5 persen, dan investasi perumahan turun hampir 8 persen dalam satu tahun.

Sementara itu, OECD juga mencatat output di negara-negara Asia lainnya dan negara-negara penghasil komoditas akan relatif terpukul, yang mencerminkan hubungan perdagangan mereka yang relatif kuat dengan China. 

Di sisi lain, dampak perdagangan di Amerika Utara juga akan relatif besar, tetapi dampak PDB akan kecil, yang mencerminkan rendahnya pangsa perdagangan dalam aktivitas ekonomi di Amerika Serikat. 

“Jika perlambatan di China disertai dengan kondisi keuangan global yang lebih ketat karena risiko repricing, seperti yang terlihat pada beberapa perlambatan sebelumnya, dampaknya akan lebih besar, terutama di negara-negara maju,” tulis OECD, dikutip Minggu (24/9/2023).  

Adapun, secara global OECD memproyeksikan Pertumbuhan PDB tetap di bawah rata-rata pada 2023 dan 2024, masing-masing sebesar 3 persen dan 2,7 persen, tertahan oleh pengetatan kebijakan makroekonomi yang diperlukan untuk mengendalikan inflasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper