Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Menkeu AS Janet Yellen Tak Ingin Sektor Perbankan Terkonsentrasi di Bank Jumbo

Janet Yellen mengutarakan bahwa konsentrasi sektor perbankan AS pada bank-bank besar adalah hal yang tidak diinginkan.
Menteri Keuangan AS Janet Yellen/Bloomberg.
Menteri Keuangan AS Janet Yellen/Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan bahwa konsentrasi industri perbankan AS pada bank-bank besar adalah hal yang tidak diinginkan. Dia meyakini menjaga keberagaman bank di sektor perbankan AS merupakan hal yang harus dilakukan.

Mengutip dari Reuters, Kamis (25/5/2023) Yellen mengatakan bahwa konsentrasi pada berbagai jenis bank, yaitu bank besar, bank regional, dan bank komunitas berukuran sedang akan menjadi pilihan yang sehat. 

"Bank-bank dengan jenis yang berbeda melayani kebutuhan yang berbeda. Dan saya pikir itu adalah kekuatan besar dari sistem perbankan AS,” Jelas Yellen. 

Yellen menjelaskan bahwa Departemen Keuangan ingin memastikan adanya persaingan yang sehat di seluruh ekonomi termasuk dengan perbankan. 

Oleh karena itu, melihat adanya dominasi bank-bank besar yang lebih tinggi di sektor perbankan bukanlah menjadi hal yang diinginkan. 

Sebagai mana diketahui, Lembaga Pengawas Perbankan kini berada dalam pengawasan ketat setelah keruntuhan bank-bank AS baru-baru ini. 

Keruntuhan tersebut kemudian memicu kerugian dalam saham perbankan global dan kekhawatiran mengenai penyebaran dampaknya. 

Federal Deposit Insurance Corporation juga mengatakan bahwa bank-bank besar AS akan memikul sebagian besar biaya untuk mengisi kembali dana jaminan simpanan yang terkuras sebesar US$16 miliar. 

Hal tersebut dilakukan akibat keruntuhan Silicon Valley Bank (SVB) dan dua bank lainnya meskipun bank-bank berukuran sedang juga akan terlibat.  

Sebelumnya, mengutip dari pemberitaan Bisnis, Sabtu (13/5) Yellen mengatakan bahwa tekanan pada bank-bank regional masih menjadi tantangan. Regulator kemungkinan juga terbuka pada opsi merger bank menengah. 

Yellen juga mengatakan bahwa ketika saham bank berada dalam bawah tekanan dapat memicu kekhawatiran bagi para deposan, walaupun bank tersebut memiliki modal dan likuiditas yang memadai. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper