Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

APBN 2024 Didesain Minim Insentif, Pengusaha Garmen: Tak Berdampak Signifikan

Pengusaha garmen Tanah Air menilai pengetatan kebijakan insentif tidak berdampak ke industri karena memang hanya dialokasikan sangat kecil dalam APBN.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 25 Mei 2023  |  11:48 WIB
APBN 2024 Didesain Minim Insentif, Pengusaha Garmen: Tak Berdampak Signifikan
Sejumlah karyawan tengah memproduksi pakaian jadi di salah satu pabrik produsen dan eksportir garmen di Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/1/2022). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Pengusaha garmen Tanah Air menilai pengetatan kebijakan insentif pada 2024 seiring berakhirnya kabinet Presiden Joko Widodo tidak akan berpengaruh signifikan bagi industri.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengatakan nilai insentif yang dikucurkan pemerintah terhadap industri tekstil tidak besar. Yakni, di bawah Rp10 miliar untuk keperluan restrukturisasi mesin.

“Insentif terhadap pelaku industri tekstil sendiri nilainya kecil. Di bawah Rp10 miliar dalam setahun untuk keperluan restrukturisasi mesin. Jadi, pengetatan insentif tidak berpengaruh bagi industri,” kata Jemmy kepada Bisnis.com, Selasa (23/5/2023).

Menurutnya, dukungan pemerintah yang diperlukan pelaku industri garmen dalam negeri saat ini adalah perlindungan pasar lokal dari gempuran barang impor negara-negara produsen tekstil lain.

Sebab, lanjutnya, pasar ekspor utama produk garmen seperti Amerika Serikat dan negara di Benua Eropa mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikian, produsen lain seperti Vietnam dan Bangladesh mencari pasar baru untuk memasarkan produksi garmennya, termasuk Indonesia.

Sekadar informasi, dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2024 pemerintah hampir tidak memberikan insentif baru kepada dunia usaha.

Tercatat, sektor penerima insentif hanyalah yang berkaitan dengan penghiliran sumber daya alam (SDA), terutama nikel dan kendaraan listrik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tekstil
Editor : Anggara Pernando

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top