Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Inflasi 2022, Bank Indonesia (BI) Sebut Konsensus Capai 5,9 Persen

Bank Indonesia mencatat inflasi inti sebesar 3,31 persen yoy. Angka tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 17 November 2022  |  16:39 WIB
Inflasi 2022, Bank Indonesia (BI) Sebut Konsensus Capai 5,9 Persen
Pedagang cabai melayani pembeli di salah satu pasar di Jakarta, Rabu (6/7/2022). Bisnis - Eusebio Chysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan consensus forecast pada November 2022 menunjukkan ekspektasi inflasi pada akhir 2022 masih tinggi yakni di level 5,9 persen (year-on-year/yoy). Kendati demikian, angka tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 6,7 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan saat ini ekspektasi inflasi Indonesia masih tinggi meskipun Indeks Harga Konsumen (IHK) menunjukkan capaian lebih rendah dari perkiraan. 

“Inflasi IHK pada Oktober 2022 tercatat sebesar 5,71 persen (yoy), masih di atas sasaran 3,0±1 persen, meskipun lebih rendah dari prakiraan dan inflasi bulan sebelumnya sebesar 5,95 persen (yoy),” kata Perry dalam Pengumuman Hasil RDG Bulanan Bulan November 2022, Kamis (17/11/2022).

Adapun inflasi kelompok volatile food tercatat turun menjadi 7,19 persen. Meski tren menurun, dia melihat perlu adanya penguatan sinergi dan koordinasi kebijakan yang erat melalui TPIP-TPID dan GNPIP untuk penurunan lebih lanjut.

Pada kelompok barang yang harganya ditentukan pemerintah, (administered prices) tercatat inflasi sebesar 13,28 persen (yoy). Masih tingginya nilai inflasi kelompok ini, kata dia, membuat penguatan koordinasi untuk memitigasi dampak lanjutan dari penyesuaian harga BBM dan tarif angkutan agar lebih rendah perlu dilakukan.

Bank Indonesia mencatat inflasi inti sebesar 3,31 persen yoy. Angka tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, akibat dampak rambatan yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan meningkatnya inflasi.

Melihat perkembangan tersebut, lanjut Perry, BI akan terus memperkuat respons kebijakan moneter. Hal tersebut dilakukan guna menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini masih tinggi dan memastikan inflasi inti ke depan kembali dalam target sasaran BI yakni 3,0±1 persen lebih awal yaitu ke paruh pertama 2023.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi Bank Indonesia indeks harga konsumen ihk
Editor : Anggara Pernando

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top