Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Dua Alasan BI Agresif Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,25 Persen

BI menaikan suku bunga acuan 50 basis poin (bps) pada September 2022.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 22 September 2022  |  15:28 WIB
Ini Dua Alasan BI Agresif Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,25 Persen
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan pers melalui video streaming di Jakarta, Kamis (2/4/2020). - Bank Indonesia
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur September 2022.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa keputusan kenaikan suku bunga acuan merupakan langkah front loadedpre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 2—4 persen pada 2023.

Dia menjelaskan, tingkat inflasi pada September 2022 akan melonjak tinggi, mencapai 5,89 persen seara tahunan akibat kenaikan harga BBM.

Tekanan inflasi pun diperkirakan masih tinggi hingga 3 bulan ke depan, sehingga tingkat inflasi pada akhir 2022 diperkirakan mencapai 6 persen.

Kenaikan suku bunga acuan yang lebih tinggi pada September 2022 tersebut kata Perry untuk menjangkar kenaikan ekspektasi inflasi dan inflasi inti, sejalan dengan permintaan masyarakat yang semakin kuat.

“Karena dampak dari kebijakan moneter khususnya suku bunga terhadap inflasi itu perlu waktu, kurang lebih 4 kuartal, oleh karenanya perlu kita lakukan sejak sekarang agar ekspektasi inflasi yang sudah meningkat segera turun,” katanya dalam siaran pers, Kamis (22/9/2022).

Di samping itu, Perry menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan yang lebih tinggi juga sebagai langkah untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

“Dengan eknaikan suku bunga, kita harapkan nilai tukar rupiah akan kembali ke fundamentalnyam, yang juga didukung oleh defisit transaksi berjalan yang sangat rendah dan kondisi neraca pembayaran yang sangat baik,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

suku bunga acuan Bank Indonesia perry warjiyo Inflasi Harga BBM
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top