Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jokowi: Program Hilirisasi Tambang Sukses, Ini Dampak Positifnya

Presiden Jokowi menyebut nilai tambah dari program hilirisasi produk tambang mentah belakangan sudah menunjukkan hasil yang positif.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 07 September 2022  |  15:21 WIB
Jokowi: Program Hilirisasi Tambang Sukses, Ini Dampak Positifnya
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenakan pakaian adat daerah asal Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara dalam Upacara Detik-Detik Proklamasi. Pada upacara peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-77 kemerdekaan RI di Jakarta, Rabu (17/8 - 2022). Biro Pers Sekretariat Presiden/Muchlis Jr
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan nilai tambah dari program hilirisasi produk tambang mentah belakangan sudah menunjukkan hasil yang positif. Selain neraca dagang yang berbalik positif dengan sejumlah mitra kuat, pendapatan negara dari sektor pertambangan juga makin besar pada tahun ini.

Jokowi memastikan nilai tambah itu berpotensi untuk terus tumbuh seiring dengan target sejumlah pembangunan pabrik pemurnian dan pengolahan mineral logam atau smelter besar yang diharapkan rampung pada 2024.

Misalkan, Jokowi mencontohkan, pengerjaan untuk smelter konsentrat tembaga di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Gresik, Jawa Timur yang pengerjaannya belakangan dipercepat selepas pelandaian pandemi tahun ini.

“Setelah Gresik beroperasi akan kelihatan berapa nilai tambah dari copper yang sudah lebih dari 50 tahun kita ekspor mentahan, begitu juga dengan bauksit akan muncul angka-angka di atas US$30 miliar entah dari nikel, tembaga bauksit saya pastikan itu,” kata Jokowi dalam sarasehan 100 Ekonom Indonesia, Jakarta, Rabu (7/9/2022).

Potensi hilirisasi yang masih prospektif itu, kata Jokowi, turut berdampak positif pada kinerja neraca perdagangan Indonesia dengan sejumlah negara besar seperti India, China hingga Amerika Serikat.

Misalkan untuk China, dia mengatakan, neraca dagang Indonesia sempat defisit hingga US$13 miliar pada 2014 lalu. Belakangan, neraca dagang dengan China menciut di angka US$2,4 miliar pada 2021.

Sementara itu, neraca dagang Indonesia dengan Amerika Serikat malahan dipastikan mengalami surplus yang makin besar pada tahun ini lewat intensifikasi hilirisasi mineral logam mentah tersebut. Dia memastikan neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat sudah surplus di angka US$14,4 miliar pada pertengahan tahun ini.

“Tahun ini kita pastikan sudah surplus dengan RRT [China] karena raw material yang sudah tidak diekspor dengan Amerika juga sama dulu surplus kita di 2014 US$3,3 miliar sekarang US$14,4 miliar,” tuturnya.

Dari sisi penerimaan negara, sektor pertambangan dinilai bakal ikut memberi kontribusi yang dominan setelah komitmen pemerintah untuk mendorong hilirisasi produk tambang mentah dalam negeri.

“Saya contohkan, kita dapat dari Freeport 62 persen dari dividen, royalti dari pajak tapi kalau ditambah dengan mitra-mitranya itu ada di 70 persen kita dapat,” kata dia.

Sebelumya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan terdapat tambahan 7 pabrik pemurnian dan pengolahan mineral logam atau smelter yang dapat beroperasi pada akhir tahun ini.

Dengan demikian, total smelter yang bakal efektif beroperasi hingga akhir tahun ini mencapai 28 unit untuk mempercepat upaya hilirisasi komoditas mineral dan logam dalam negeri.

“Perkembangan pembangunan smelter sampai 2021 itu sudah ada 21 smelter beroperasi yang kemudian kalau kita lihat rencana 2022 itu akan ada tambahan lagi 7 smelter, tentunya kalau kita lihat mudah-mudahan bisa berjalan lancar hingga akhir 2022 itu menjadi 28 smelter,” kata Staf Khusus Menteri ESDM Irwandy Arif dalam Closing Bell CNBC Indonesia, dikutip Rabu (1/6/2022).

Adapun, Kementerian ESDM mencatat total investasi yang dibutuhkan untuk upaya percepatan pembangunan smelter hingga 2023 mencapai US$30 miliar atau setara dengan Rp437,1 triliun. Rencana anggaran itu naik 36,3 persen dari posisi awal yang dipatok sebesar US$22 miliar atau setara dengan Rp320,54 triliun pada 2021.

“Sampai 2023 itu dibutuhkan biaya pada perhitungan tahun lalu sekitar US$22 miliar, katakanlah ada inflasi kenaikan harga maksimum bisa US$30 miliar supaya rencana pendirian smelter itu sampai 2023 bisa terpenuhi,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi pertambangan tambang
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top