Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: dari Legitnya Bisnis Rumah hingga MUFG Akuisisi Home Credit

Berita tentang bisnis properti rumah tapak menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id Sabtu (20/8/2022).
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 20 Agustus 2022  |  09:07 WIB
Top 5 News Bisnisindonesia.id: dari Legitnya Bisnis Rumah hingga MUFG Akuisisi Home Credit
Ilustrasi investasi properti dan real estat - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Sektor properti residensial primer yakni rumah tapak menunjukkan pemulihan dengan peningkatan penjualan pada kuartal II tahun 2022, meski masih dibayangi tekanan ekonomi global, inflasi yang tinggi, kenaikan harga material dan juga pandemi Covid-19 yang belum usai.

Berita tentang bisnis properti rumah tapak menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id.

Berikut ini highlight Bisnisindonesia.id, Sabtu (20/8/2022):

1. Legitnya Bisnis Properti Rumah Tapak di Tengah Kondisi Sulit

Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) pada kuartal II tahun 2022 yang dikeluarkan Bank Indonesia, penjualan properti rumah tapak tumbuh positif sebesar 15,23 persen (year on year/yoy) pada setelah terkontraksi pada kuartal sebelumnya sebesar -10,11 persen (yoy). 

Perbaikan perkembangan penjualan rumah tapak pada kuartal II tahun 2022 didorong oleh membaiknya seluruh penjualan tipe rumah, terutama tipe besar yang tumbuh sebesar 29,86 persen (yoy). Selain itu, peningkatan penjualan tipe rumah kecil tercatat sebesar 14,44 persen (yoy) dari kuartal I tahun 2022 yang terkontraksi sebesar -8,27 persen (yoy). Lalu penjualan tipe rumah menengah tercatat mencapai 12,25 persen (yoy) dari kuartal sebelumnya yang terkontraksi dalam -18,28 persen (yoy). 

Lalu untuk Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) di pasar primer secara tahunan meningkat terbatas pada kuartal II tahun 2022 tercatat sebesar 1,72 persen (yoy), relatif sedikit mengalami penurunan bila dibandingkan dengan 1,77 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya. 

Kenaikan indeks harga, suplai, maupun permintaan pada kuartal kedua 2022 menunjukkan bahwa outlook pasar properti nasional mulai normal kembali setelah tertahan pada kuartal pertama 2022. 

2. Transaksi Berjalan Mulus, Neraca Pembayaran Kuartal II Surplus

Indonesia dinilai memiliki ketahanan eksternal yang bagus di tengah kondisi global yang masih tidak menentu. Bank Indonesia (BI) menyebutkan ketahanan eksternal terjaga dengan adanya capaian Neraca Pembayaran Indonesia atau NPI yang surplus pada kuartal II/2022. Kinerja transaksi modal dan finansial, serta investasi portofolio juga tercatat positif. 

Neraca pembayaran Indonesia kuartal II/2022 mencatatkan surplus US$2,4 miliar. Kondisi tersebut berbalik positif dari catatan defisit US$1,8 miliar pada kuartal I/2022.  

"Peningkatan kinerja NPI tersebut didukung oleh surplus transaksi berjalan yang meningkat dan perbaikan defisit transaksi modal dan finansial," ujar Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono, Jumat (19/8/2022). 

Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2022 mencapai US$136,4 miliar atau setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jumlah tersebut berada di atas standar kecukupan internasional. 

Surplus transaksi berjalan meningkat signifikan pada kuartal II/2022, terutama karena kinerja ekspor nonmigas yang semakin baik. Transaksi berjalan mencatatkan surplus US$3,9 miliar (1,1 persen terhadap PDB), naik signifikan dari catatan surplus kuartal I/2022 senilai US$0,4 miliar (0,1 persen dari PDB). 

Kinerja transaksi berjalan, menurut Erwin, terutama didukung peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas seiring dengan harga komoditas global yang tetap tinggi. 

Naiknya defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi kenaikan impor yang sejalan dengan peningkatan permintaan. Defisit neraca pendapatan primer dan neraca jasa tercatat mengalami peningkatan. Hal itu sejalan dengan akselerasi aktivitas ekonomi domestik dan pembayaran imbal hasil investasi pada periode laporan. 

 

3. Industri 4.0 Dipacu, MediaTek Kepincut Garap Manufaktur Pintar

Revolusi industri 4.0 yang dicanangkan melalui Peta Jalan Making Indonesia 4.0 terus berjalan. MediaTek menyusul sejumlah pabrikan global yang kepincut menggarap peluang di sektor manufaktur pintar. 

Country Manager Indonesia and Philippines MediaTek Cedric Chang mengatakan pihaknya tengah menjajaki peluang untuk mengembangkan manufaktur pintar di Indonesia. Saat ini, MediaTek bermitra dengan perusahan elektronik Polytron untuk menjajaki peluang tersebut.

"Kami sekarang juga menjajaki peluang baru di manufaktur pintar melalui diskusi rutin yang dilakukan dengan Polytron," ujar Cedric, Jumat (19/8/2022).

MediaTek Incorporated merupakan perusahaan semikonduktor fabless global terbesar ke-4 di dunia. Polytron merupakan produsen lokal untuk memasok berbagai peralatan rumah tangga. Menurut dia, seiring dengan mulai bergesernya industri menuju manufaktur digital, akan ada banyak hal yang dapat diotomatisasi.

Cedric menilai, dengan memperkenalkan manufaktur berteknologi tinggi, hal itu dapat memberikan berbagai keuntungan, termasuk meningkatkan fasilitas dan efisiensi untuk perusahaan. "Jadi dengan memperkenalkan manufaktur teknologi tinggi, benar-benar dapat memfasilitasi, meningkatkan efisiensi, dan mungkin mengurangi tenaga kerja," kata Cedric.

MediaTek memiliki berbagai solusi artificial intelligence of things (AIoT), seperti bluetooth, WiFi, bahkan teknologi 4G dan 5G. Cedric menilai berbagai solusi tersebut sangat cocok untuk diaplikasikan pada manufaktur pintar.

4. Mengadang Inflasi Pangan,  Mengerahkan TPID Lawan Badai Harga

Ancaman inflasi tinggi menghantui Indonesia setelah usia negeri ini berada di angka 77 tahun. Otoritas moneter menyiapkan kekuatan hingga ke daerah untuk memecah risiko terjadinya bola salju kenaikan harga. Pengamat menyebut angka risiko inflasi 6 – 8 persen. Sebelumnya, Ketua MPR mengingatkan potensi inflasi mencapai 12 persen di September tahun ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juli 2022 secara tahunan (year on year/ yoy) sebesar 4,94 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa inflasi sudah mencapai titik tertinggi sejak Oktober 2015. Inflasi Juli 2022 disebabkan oleh peningkatan harga sejumlah komoditas pangan terutama cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit.

Ketua MPR Bambang Soesatyo yang dikenal dengan nama sapaan Bamsoet bahkan menyampaikan prediksi bahwa inflasi Indonesia bisa mencapai 12 persen pada September mendatang.

Kenaikan inflasi dapat menjadi ancaman bagi perekonomian nasional. Kenaikan inflasi terus terjadi dalam beberapa bulan terakhir, dan masih akan berlanjut, bahkan hingga terjadi hiperinflasi. 

5. Meneropong Kabar MUFG Akuisisi Home Credit Indonesia & Filipina

Konglomerasi keuangan asal Jepang, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) dikabarkan berminat mengakuisisi unit bisnis perusahaan penyedia kredit digital Home Credit di Indonesia dan Filipina. 

Melansir Bloomberg, Jumat (19/8/2022), menurut sumber yang tidak ingin disebut namannya mengungkapkan bahwa MUFG menjadi calon investor terkuat. Meskipun, korporasi tersebut bukan menjadi satu-satunya korporasi keuangan jumbo yang berminat terhadap unit bisnis Home Credit di kawasan Asia Tenggara itu.

Sumber Bloomberg menyebut Mizuho Financial Group, Sumitomo Mitsui Financial Group, dan Grab Holdings juga berminat untuk mengakuisisi. Oleh sebab itu, negosiasi dengan MUFG yang rencananya terjadi pada awal bulan depan, ada kemungkinan tertunda, bahkan batal.

Sebelumnya, indikasi terkait aksi korporasi Home Credit di kawasan Asean telah tercium sejak Maret 2022. Ketika itu, Bloomberg melaporkan bahwa pemilik Home Credit saat ini, yaitu Grup PPF besutan keluarga almarhum Petr Kellner, mantan orang terkaya di Republik Ceko, tengah mencari suntikan modal senilai lebih dari US$2 miliar untuk mengembangkan unit bisnis Home Credit di Indonesia, Vietnam, Filipina, dan India.

Bloomberg bahkan menyebut keluarga Kellner tengah mempertimbangkan untuk lebih fokus di kawasan Eropa, sehingga berpotensi melego secara penuh berbagai investasi jumbo besutannya keluar dari kawasan China dan negara-negara Asia lain, termasuk terkait Home Credit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti pembiayaan Inflasi manufaktur
Editor : Yanita Petriella
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top