Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Prama Yudha Amdan

Prama Yudha Amdan

Koordinator Kebijakan Fiskal dan Moneter APSYFI
email Lihat artikel saya lainnya

Opini: Tiongkok dan Taiwan Meradang, TPT Segera Raih Peluang

Terdapat beberapa alasan mengapa sektor TPT bisa dijadikan sebagai quick-wins pemerintah sebagai pembuat kebijakan.
Bisnis.com - 16 Agustus 2022  |  06:44 WIB
Opini: Tiongkok dan Taiwan Meradang, TPT Segera Raih Peluang
Pekerja meyelesaikan pembuatan pakaian di pabrik garmen PT Citra Abadi Sejati, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (8/9/2018). - JIBI/Nurul Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Belum hilang dalam ingatan atas dampak krisis energi China pada 2021 yang dilanjutkan dengan pergolakan perda­gang­an akibat invasi Rusia ke Ukraina, per­eko­no­­mi­an dunia kembali di­buat bersiaga dengan ke­te­gangan antara Taiwan dan Chi­na.

Reaksi pemerintah Ne­ge­ri Tirai Bambu dengan me­nem­bak­kan sejumlah peluru kendali ke wilayah perairan Taiwan se­baiknya ditangkap sebagai sinyal bahwa Tiongkok tidak me­man­dang kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat yang merupakan musabab ke­te­gangan ini sebagai hal yang biasa. Dan, sudah ba­rang tentu bahwa apapun yang terjadi di negara dengan in­dus­tri terbesar di dunia se­ka­li­gus perekonomian ter­be­sar di Asia akan mem­be­ri­kan dampak serius ke negara lain, tak terkecuali Indonesia.

Mengutip dari laman portal daring Bisnis Indonesia, Menteri Perindustrian telah me­nyiap­kan sejumlah persiap­an untuk menghadapi dampak tersebut. Pemerintah me­nya­takan akan mempercepat pro­ses investasi di kawasan in­dustri. Selain itu, calon pe­nge­lola kawasan industri akan mendapatkan pendamping­an, serta mendapatkan fa­si­li­tas nonfiskal seperti pe­ngamanan sebagaimana objek vital nasional dan objek tertentu. Namun pertanyaannya, apakah cukup bila kita hanya mempersiapkan kebijakan untuk pelaku baru industri? Tidakkah lebih baik jika kita juga memperkuat ketahanan dan daya saing industri yang telah ada?

Mari kita mengambil contoh industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang telah eksis di Tanah Air sejak dekade 1970-an dan mencapai masa kejayaannya pada 1990-an. Sempat dicap sebagai sunset industry saat krisis ekonomi Asia 1998, industri ini justru membuktikan daya tahan yang cukup mengesankan hingga saat ini. Industri ini tumbuh 12,45 persen pada kuartal pertama 2022 berkat topangan konsumsi dalam negeri. Dari sisi ekspor, hingga paruh kedua 2022, TPT mencatatkan surplus neraca perdagangan lebih dari US$4 miliar.

Selain itu, statistik asosiasi menunjukkan pemulihan pascatekanan pandemi ge­lom­bang I dan II, di mana pa­da 2021 industri ini berkon­tribusi atas penyerapan ham­pir 3,7 juta tenaga kerja di­ba­nding 3,43 juta pada 2020 dan realisasi investasi yang juga melompat dari US$6,1 juta pada 2020 menjadi US$6,45 juta pada 2021. Ki­ner­ja mengesankan ini di­du­kung oleh implementasi program substitusi impor de­ngan target hingga 35 persen dan mulai adanya kesadaran bah­wa pentingnya reintegrasi in­dus­tri.

Berdasarkan data empiris kinerja TPT, kita dapat melihat tren di mana setiap perekonomian global mengalami guncangan, industri dalam negeri siap menampung kebutuhan perindustrian dan perdagangan nasional. Namun, dalam keadaan biasa, industri dalam negeri justru kerap kali terkontraksi akibat praktik impor yang tidak berkeadilan. Posisi industri nasional sebagai bumper ini harus segera dibalikkan, di mana industri menjadi mainstay dan impor menjadi cadangan.

Terdapat beberapa alasan mengapa sektor TPT bisa dijadikan sebagai quick-wins pemerintah sebagai pembuat kebijakan.

Pertama, infrastruktur sudah terbangun dari hulu bahan baku hingga hilir (garmen dan retail).

Kedua, Indonesia merupakan rumah dari dua bahan baku terpenting industri TPT, yakni polyester dan rayon di mana kapasitas yang tersedia sudah dalam level swasembada hingga 2025.

Ketiga, negara masih dalam fase menikmati bonus demografi di mana 60 persen populasi Indonesia berusia rerata 29 tahun dengan kon­sum­si tekstil per kapita ma­sih 7,5–8 kg per orang per ta­hun (masih di bawah level kon­sum­si Negeri Jiran Malaysia yang su­dah melewati 12 kg per orang per tahun).

Keempat, po­si­si geopolitik yang berada di jantung Asia Tenggara juga stra­tegis untuk memosisikan Indonesia sebagai pusat ma­nu­fak­tur regional.

Serta kelima, Indonesia memiliki ke­ka­ya­an budaya adibusana le­lu­hur beragam yang masih men­jadi daya tarik generasi muda.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, selain memberi kemudahan investasi baru, terdapat sejumlah usulan yang bisa dipertimbangkan pemerintah untuk memperkuat kekokohan industri TPT nasional.

Pertama, untuk menjaga momentum pemulihan, pemenuhan konsumsi dalam negeri seyogyanya dioptimalkan berasal dari industri lokal.

Kedua, memastikan bahwa aktivitas perdagangan berkeadilan dan terkendali, di mana Indonesia perlu mencegah agar tidak hanya dijadikan destinasi ekspor bagi negara dengan produksi yang berlebihan. Sejumlah peraturan telah tersedia, tetapi diperlukan upaya ekstra agar implementasinya dapat dipantau dengan baik.

Ketiga, untuk produk berbasis poliester, diperlukan upaya reintegrasi industri TPT ke hulu hingga tersambung dengan industri pengilangan petrokimia, sehingga Indonesia akan memiliki rantai industri komplet dari kilang hingga garmen.

Keempat, ekspansi penerapan tingkat kandungan dalam negeri bukan hanya untuk pengadaan pemerintah, tetapi juga untuk perdagangan umum dan ekspor. Serta kelima, insentif ekspor untuk produk bernilai tambah dengan acuan perhitungan jumlah tahapan konversi di dalam negeri.

Setiap krisis pasti membawa peluang yang bisa dimanfaatkan. Kali ini, kembali, kita dapat membuktikan bahwa Indonesia adalah produsen yang berpengaruh di kawasan, dan tidak sebatas destinasi perdagangan.

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri tpt tpt china
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top