Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Gagal Pacu Pinjaman Bank Gara-Gara Suku Bunga Rendah

Suku bunga China yang rendah menyebabkan negara Tirai Bambu gagal memacu pinjaman bank, menciptakan tantangan baru bagi pemangku kebijakan.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 13 Agustus 2022  |  16:26 WIB
China Gagal Pacu Pinjaman Bank Gara-Gara Suku Bunga Rendah
Ilustrasi bendera nasional China - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Suku bunga China yang rendah menyebabkan negara Tirai Bambu gagal memacu pinjaman bank, menciptakan tantangan baru bagi pemangku kebijakan ketika mereka mencoba untuk memulihkan perekonomian mereka.

Data bank sentral pada Jumat (12/8/2022) menunjukkan perlambatan tajam dalam pembiayaan agregat, ukuran kredit yang luas pada Juli, lantaran pinjaman baru dan penerbitan obligasi korporasi melemah.

Pada saat yang sama, pertumbuhan M2 (uang beredar) meningkat lebih dari yang diharapkan menjadi 12 persen pada Juli. Data juga menunjukkan, bank-bank dibanjiri uang tunai, tetapi berjuang meningkatkan pinjaman kepada pelanggan dengan latar belakang pertumbuhan yang lemah dan gejolak di pasar properti.

Kepala ekonom China di Pantheon Macroeconomics Ltd. Craig Botham menyebut data tersebut adalah tanda klasik jebakan likuiditas.

"Likuiditas cukup, tetapi tidak ada yang menginginkannya. Dalam keadaan ini, kebijakan moneter tidak dapat berbuat banyak untuk mendukung perekonomian," katanya, melansir Bloomberg, Sabtu (13/8/2022).

The People’s Bank of China telah menahan diri dari  pemangkasan suku bunga pada Januari lalu dan fokus membujuk bank untuk meningkatkan pinjaman mereka, terutama untuk sektor-sektor yang ditargetkan seperti usaha kecil. Kendati demikian, default di sektor properti dan melemahnya perekonomian membuat perbankan enggan menyalurkan kredit.

Beijing baru-baru ini telah menempatkan harapannya pada kebijakan bank untuk memacu pertumbuhan, mengalokasikan 1,1 triliun yuan (US$163 miliar) untuk digunakan membiayai proyek infrastruktur.

Ketidaksesuaian antara likuiditas dan pinjaman bank juga meningkatkan risiko keuangan. Pasalnya, suku bunga pasar turun jauh dibawah suku bunga kebijakan yang ditetapkan oleh bank sentral.

Kepala ekonom di Citic Securities Co. Ming Ming menyampaikan, likuiditas menumpuk di pasar antarbank. Bahkan, ada risiko uang diarahkan keluar dari ekonomi riil dan masuk ke pasar.

"Kebijakan moneter perlu lebih memantau perubahan leverage pasar dan mendorong uang mengalir ke ekonomi riil," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china pinjaman ekonomi china
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top