Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sri Mulyani Was-was dengan Konflik China vs Taiwan, Nih Dampaknya!

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengaku was-was dengan konflik China vs Taiwan. Ternyata ini dampaknya ke perekonomian.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 11 Agustus 2022  |  17:30 WIB
Sri Mulyani Was-was dengan Konflik China vs Taiwan, Nih Dampaknya!
Tangkapan layar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam APBN Kita - Bisnis / Anggara Pernando
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku was-was seiring memanasnya konflik antara China vs Taiwan dalam beberapa waktu terakhir.

Dia mengatakan awalnya dunia merasa bisa mengelola pandemi Covid-19. Namun, Sri Mulyani muncul risiko baru terhadap perekonomian dunia yang berdampak pada tekanan ekonomi global.

"Apa ini artinya? Di lingkungan ekonomi global, pasca atau sesudah dua tahun pandemi kondisinya tidak baik-baik saja," ujarnya saat konferensi pers APBN Kita, Kamis (11/8/2022).

Pertama, dia mengatakan pandemi Covid-19 menimbulkan disrupsi sisi fiskal, distribusi barang tidak berjalan lancar. Menurutnya, hal itu menyebabkan tingginya permintaan tidak bisa dipenuhi dari sisi produksi karena sesudah dua tahun pandemi normalisasi tidak mudah terjadi.

Namun, katanya, dalam situasi itu muncul kondisi geopolitik yang menimbulkan eskalasi ketegangan sampai perang Rusia vs Ukraina. Sri Mulyani juga mengungkapkan ketegangan juga melonjak tinggi di Taiwan, akibat perseteruan China dan Amerika Serikat (AS).

"Ini pasti akan menimbulkan tambahan risiko pada disrupsi sisi fiskal. Nah, di sisi lain seluruh negara di dunia selama pandemi counter cyclical melalui strategi fiskal dan moneter sehingga permintaan mulai pulih pd 2021-2022," imbunya.

Namun, Sri Mulyani mengatakan akibat adanya disrupsi suplai akibat pandemi dan geopolitik, sementara demand side meningkat menyebabkan inflasi yang melonjak sangat tinggi.

Dia menuturkan inflasi di Amerika Serikat dan Eropa tertinggi 40 tahun terakhir. Dengan inflasi bergejolak sangat tinggi, lanjutnya, dilakukan respon kebijakan moneter melalui pengetatan likudiitas dan suku bunga.

"Ini menimbulkan efek spillover ke berbagai negara. Volatilitas pasar keuangan melonjak, capital outflow terjadi di negara berkembang dan emerging sehingga menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan cost of fund atau lonjakan biaya utang," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sri mulyani China vs Taiwan Perang Rusia Ukraina
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top