Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Starbucks Cetak Penjualan Rp121,6 Triliun, Jajan Kopi saat Inflasi Tinggi

Starbucks membukukan penjualan US$8,15 miliar, atau sedikit di atas ekspektasi pada kuartal ketiga fiskal yang berakhir 3 Juli 2022.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 03 Agustus 2022  |  07:03 WIB
Starbucks Cetak Penjualan Rp121,6 Triliun, Jajan Kopi saat Inflasi Tinggi
Suasana gerai kopi Starbucks di San Francisco, California, AS, Kamis (22/7/2021) Bloomberg - David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA – Starbucks Corp membukukan kinerja yang kuat di pasar Amerika pada kuartal III/2022 tahun fiskal yang berakhir 3 Juli 2022.

Mengutip Bloomberg, Rabu (3/8/2022), laporan kinerja Starbucks terbaru memperkuat laporan dari rilis kinerja McDonald's Corp dan Chipotle Mexican Grill Inc jika orang Amerika masih membuka dompet mereka untuk makan di luar, bahkan saat inflasi mulai mengikis daya beli.

Starbucks membukukan penjualan US$8,15 miliar setara Rp121,61 triliun, atau sedikit di atas ekspektasi pada kuartal ketiga fiskal yang berakhir 3 Juli 2022. Sementara itu biaya per pesanan naik 6 persen, tetapi transaksi yang sebanding turun 3 persen. Hal ini menunjukkan bahwa harga yang lebih tinggi membuat volume penjualan yang lebih rendah.

“Hasilnya menunjukkan kemajuan awal yang telah kami buat hanya dalam empat bulan yang singkat,” kata pendiri dan interim Chief Executive Officer Starbucks Howard Schultz.

Sejak mengambil alih posisi CEO sementara pada April 2022, Schultz telah bergerak untuk menggoyahkan manajemen, menghentikan pembelian kembali saham dan menumpulkan dorongan serikat pekerja yang berkembang di AS.

China, yang merupakan pasar utama Starbucks bersama dengan AS, tetap menjadi sumber ketidakpastian di tengah-tengah aturan pandemi yang membatasi mobilitas di kota-kota besar.

Penjualan yang sebanding di negara itu turun 44 persen selama kuartal tersebut, sementara analis memperkirakan penurunan 39 persen. Starbucks baru-baru ini mulai membuka kembali gerai di seluruh Shanghai.

“Itu jelas merupakan laporan yang beragam. Kabar baik di sini di AS, dan berita buruk di luar negeri,” kata analis Bloomberg Intelligence Michael Halen.

Starbucks mengatakan panduan keuangannya tetap ditangguhkan untuk saldo tahun fiskal ini di tengah ketidakpastian pembatasan pandemi China.

Inflasi juga tetap menjadi perhatian. Margin operasi pada kuartal tersebut adalah 15,9 persen, di atas proyeksi analis tetapi masih turun 400 basis poin dari tahun sebelumnya. Perusahaan mengatakan penurunan itu karena inflasi, upah yang lebih tinggi untuk pekerja dan langkah-langkah anti-Covid di China.

Harga yang lebih tinggi di Amerika Utara dan penjualan di Eropa membantu mengimbangi tekanan. Ketika keseluruhan transaksi turun pada kuartal tersebut, justru transaksi Starbucks naik 1 persne di Amerika Utara.

“Sangat menyenangkan bahwa mereka tidak melihat kerugian transaksi di AS dengan harga yang naik,” kata Halen.

Juru bicara Strabucks menyebutkan perusahaan telah melihat penurunan baru-baru ini dalam pergantian pekerja. Pada April, Schultz memberi tahu karyawan bahwa 80 persen barista telah bekerja di perusahaan kurang dari setahun, angka yang dia sebut mengejutkan.

Starbucks berusaha meyakinkan para pekerjanya bahwa mereka akan lebih baik jika mereka tidak berserikat.

Saham Starbucks naik 1,4 persen pada pukul 17:12 di akhir perdagangan di New York, Selasa (2/8/2022). Saham perseroan telah turun 28 persen sepanjang tahun ini hingga penutupan Selasa, atau dua kali lipat penurunan Indeks S&P 500 selama periode yang sama.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

starbucks Inflasi kopi wall street

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top