Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Induk Usaha Trakindo (ABMM) Sebut Stok Alat Berat Tersendat, Ada Apa?

ABMM yang membawahi alat berat merk Trakindo mengungkapkan lonjakan permintaan tidak bisa diimbangi pasokan komponen utama seperti mesin. Impor komponen tersebut masih belum bisa dikebut.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 20 Juli 2022  |  16:57 WIB
Induk Usaha Trakindo (ABMM) Sebut Stok Alat Berat Tersendat, Ada Apa?
Model berpose di peluncuran Motor Grader Caterpillar seri M generasi terbaru, Cat 14M3 dan Cat 18M3 pada pameran perlengkapan pertambangan terbesar di Asia, Mining Indonesia 2017 di Jakarta International Expo, Jakarta, Rabu (13/9). - JIBI/Nurul Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA- Perusahaan penyedia alat berat di Tanah Air tampaknya harus sedikit bersabar dalam pengadaan unit di tengah tingginya permintaan pasar yang dipicu lonjakan kebutuhan batu bara. Pasalnya, produsen komponen masih harus mengejar kapasitas produksi. 

Direktur PT ABM Investama Tbk. (ABMM) Adrian Erlangga mengatakan lonjakan kebutuhan alat berat tidak bisa diimbangi produksi komponen utama seperti produsen mesin. 

"Diperlukan waktu yang cukup lama bagi pabrikan tersebut untuk memproduksi komponen-komponen yang diimpor oleh produsen alat berat di Tanah Air," kata Adrian kepada Bisnis, Rabu (20/7/2022).

Dia tidak memberikan penjelasan mendetil mengenai peningkatan permintaan komponen alat berat tersebut. Namun, secara garis besar permintaan  naik lebih dari 2 kali lipat dari periode semester I/2021.

Kondisi tersebut, sambung Adrian, sangat berpengaruh bagi ABMM yang memerlukan komponen-komponen alat berat. Sebab, komponen-komponen alat berat di Tanah Air seluruhnya harus diimpor.

Sebelumnya, ABMM memperkirakan pengadaan alat berat perusahaan meningkat 20 persen dari kapasitas normal tahunan, atau sebanyak 650 unit sepanjang tahun ini. Guna mengantisipasinya,  perusahaan telah melakukan pengadaan alat berat sebanyak 780 unit tahun ini.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) Etot Listyono memperkirakan impor alat berat Indonesia tahun ini lebih tinggi dibandingkan dengan 2022.

Kenaikan impor alat berat diprediksi naik sekitar 15 persen dari tahun lalu seiring dengan peningkatan kebutuhan pasar alat berat dalam negeri dari 14.500 unit pada 2021 menjadi 20.000 unit tahun ini.

"Dengan jumlah produksi di dalam negeri 10.000 unit, maka 10.000 unit lainnya akan diimpor," ujar Etot kepada Bisnis.

Menurut data Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi), kapasitas produksi alat berat di Indonesia sekitar 10.000 unit per tahun. Tahun lalu, RI tercatat memiliki kapasitas produksi sekitar 6.000 unit.

Namun demikian, kata Etot, asosiasi belum selesai melakukan penghitungan jumlah impor alat berat selama semester I/2022. Diperkirakan informasi terkait baru dirilis pada akhir Juli 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top