Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dana Darurat Penanganan Pandemi Segera Terbentuk, Saran Negara-Negara G20 Di Luar Dugaan

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers hasil pertemuan The 1st Joint Finance and Health Ministerial Meeting (JFHMM).
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 22 Juni 2022  |  15:56 WIB
Dana Darurat Penanganan Pandemi Segera Terbentuk, Saran Negara-Negara G20 Di Luar Dugaan
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) berbincang dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kiri) usai mengikuti pertemuan pertama G20 Joint Finance Health Ministerial Meeting di Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (21/6/2022). ANTARA FOTO - Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah negara bersama Bank Dunia atau World Bank membentuk dana perantara keuangan atau Financial Intermediary Fund (FIF) untuk kesiapsiagaan penanganan pandemi. G20 meminta sejumlah hal, di antaranya agar penerima dana itu nantinya dapat menentukan kebijakan sendiri dalam penggunaan dananya.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers hasil pertemuan The 1st Joint Finance and Health Ministerial Meeting (JFHMM). Konferensi pers berlangsung pada Selasa (21/6/2022) malam di Yogyakarta dan disiarkan secara daring.

Sri Mulyani menyebut bahwa sejumlah negara dan lembaga mengusung pendirian FIF untuk kesiapsiagaan penanganan pandemi dan mengajukannya kepada World Bank. Pembentukan FIF sedang menunggu persetujuan dewan direksi World Bank, dan diperkirakan akan terdapat keputusan pada 30 Juni 2022.

Sri Mulyani dan sejumlah negara pengusung FIF turut membahas inisiatif itu dalam pertemuan para menteri keuangan dan menteri kesehatan G20. Mereka memberikan berbagai respons dan timbal balik atas inisiatif tersebut, yang secara garis besar terbagi ke dalam empat masukan.

"Pertama, [FIF] ini harus inklusif, sehingga dapat menjaga dan memperkuat platform kolaborasi antara menteri keuangan dan menteri kesehatan [terkait persiapan penanganan risiko pandemi di masa depan], juga antara negara maju dan berkembang," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers itu, dikutip pada Rabu (22/6/2022).

Kedua, negara-negara G20 meminta agar negara-negara pendiri dan pihak yang menyumbang dana tidak mendominasi penentuan keputusan dalam FIF. Penerima dana tersebut nantinya harus memiliki kewenangan untuk menggunakan dananya sesuai kondisi dan kebutuhannya tersendiri.

Ketiga, menurut Sri Mulyani, negara-negara G20 meminta agar FIF tidak bersaing dengan alokasi yang sudah ada untuk berbagai inisiatif kesehatan. Ekspektasinya, FIF akan menjadi sumber pendanaan baru, terutama yang mencerminkan kebutuhan negara berkembang.

"Lalu, yang terpenting saya rasa, semua anggota G20, juga stakeholder lainnya ingin melihat peran sentral dari World Health Organization [WHO]," ujar Sri Mulyani.

Saat ini, dana FIF untuk kesiapsiagaan penanganan pandemi telah terkumpul hingga US$1,13 miliar. Menurut Sri Mulyani, masih terdapat negara-negara lain yang hendak berpartisipasi ke dalam FIF, tetapi mereka masih berada dalam proses persiapan dan penyelesaian berbagai aspek di negaranya.

Adapun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut bahwa Indonesia sebagai salah satu pendiri FIF menyatakan komitmen untuk menyumbangkan dana US$50 juta.  Terbaru, Singapura menyatakan komitmen untuk menyumbang US$10 juta.

Budi memaparkan jumlah komitmen dana dari sejumlah negara yang berkontribusi terhadap FIF, berikut rinciannya:

  • Indonesia: US$50 juta
  • Amerika Serikat: US$450 juta
  • Uni Eropa: US$450 juta
  • Singapura: US$10 juta
  • Jerman: 50 juta Euro
  • Wellcome Trust: 10 juta Poundsterling

"Totalnya menjadi US$1,134 miliar," ujar Budi dalam konferensi pers tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank dunia g20 sri mulyani Covid-19
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top