Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Sentimen Batu Bara Kerek Permintaan Alat Berat, Ini Strategi Induk Usaha Trakindo (ABMM)

Peningkatan permintaan alat berat akibat lonjakan demand batu bara yang sudah berlangsung sejak kuartal I/2022 membuat upaya operasional dan penyediaan unit menjadi tidak mudah.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 20 Juni 2022  |  17:20 WIB
Sentimen Batu Bara Kerek Permintaan Alat Berat, Ini Strategi Induk Usaha Trakindo (ABMM)
Pekerja mengoperasikan alat berat saat bongkar muat batu bara ke dalam truk di Pelabuhan PT Karya Citra Nusantara (KCN), Marunda, Jakarta, Rabu (12/1/2022). ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA- Induk usaha PT Trakindo Utama, PT ABM Investama Tbk. (ABMM), menyiapkan sejumlah opsi sebagai strategi perusahaan dalam mengamankan ketersediaan alat berat seiring dengan meningkatnya permintaan.

Direktur ABM Investama Adrian Erlangga mengatakan perusahaan mengambil 2 opsi untuk mengantisipasi situasi tersebut, antara lain pembelian dan rental unit.

"Kami membuka semua opsi meliputi beli, rental, dan semua opsi yang tersedia untuk memeroleh alat berat. Termasuk, rental dari luar negeri sudah kami coba," kata Adrian kepada Bisnis, Senin (20/6/2022).

Dia menjelaskan peningkatan permintaan alat berat akibat lonjakan demand batu bara yang sudah berlangsung sejak kuartal I/2022 membuat upaya operasional dan penyediaan unit menjadi tidak mudah.

Selain itu, sambungnya, perusahaan juga melakukan peningkatan intensitas pelatihan operator untuk mempersiapkan kemampuan tenaga kerja.

"Namun, situasi ini bukan hanya dihadapi Indonesia, tapi seluruh negara eksportir batu bara. Jadi, kebutuhan alat berat di dunia meningkat pesat," jelasnya.

Adrian menambahkan, kapasitas penyediaan alat berat ABMM saat ini sebanyak 650 unit per tahun.

Ketua Umum Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi) Jamaludin mengatakan pelaku industri alat berat mau tidak mau harus melakukan importasi untuk memenuhi permintaan dari sejumlah negara di Eropa.

Jamaluddin menjelaskan produsen yang tergabung di Hinabi merencanakan produksi alat berat dengan kapasitas maksimal 10.000 unit tahun. Sementara itu, market size alat berat di Tanah Air adalah 18.000 unit per tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alat berat abmm emiten alat berat
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top