Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Saham AS Diserbu Investor setelah Sempat Eksodus Arus Modal

Para investor pasar saham AS mendapat angin segar setelah keluarnya arus modal terbesar dalam dua dekade.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 24 Mei 2022  |  20:02 WIB
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar modal Amerika Serikat tiba-tiba diserbu aksi beli setelah eksodus arus modal besar-besaran pada pekan lalu usai S&P 500 melonjak hingga 2 persen yang dipicu oleh optimisme pencabutan tarif impor China.

Dilansir Bloomberg pada Selasa (24/5/2022), para investor mendapat angin segar setelah keluarnya arus modal terbesar dalam dua dekade.

Lebih dari 1.100 eksekutif dan pejabat perusahaan membeli saham perusahaan mereka sendiri. Jumlah itu melebihi banyaknya penjual untuk bulan pertama sejak Maret 2020, menurut data Washington Service.

Lonjakan aksi beli ini terjadi seiring dengan penarikan dana investor dari dana ekuitas. Sebelumnya, EPFR Global mendeteksi keluarnya arus modal selama 6 pekan, yang terpanjang sejak 2019.

Sementara itu, ahli strategi Wall Street menurunkan prospek pasar dengan mengatakan risiko pengetatan moneter agresif dari Federal Reserve akan menyeret perekonomian ke dalam resesi.

Keberhasilan pembelian saham pada saat harga murah bisa dibilang bermuara pada seberapa besar keyakinan untuk meraih keuntungan.

Jika prediksi tersebut menjadi kenyataan, perusahaan yang terdaftar di S&P 500 akan mendapatkan US$248 per saham pada tahun depan.

Untuk itu, indeks tersebut bisa mencetak keuntungan sekitar 16 kali lipat yang sebenarnya tidak terlalu besar menurut standar historis.

"Kami percaya pandangan fundamental perusahaan biasanya benar," kata Chief Executive Officer Icon Advisers Inc., Craig Callahan.

Rasio jual beli orang dalam melonjak pada Agustus 2015 dan akhir 2018. Rasio tersebut naik menjadi 1,04 pada bulan ini dari 0,43 pada April.

Chief Executive Officer Interim Starbucks Corp. Howard Schultz dan CEO Intel Corp. Patrick Gelsinger termasuk di antara orang dalam yang membeli saham mereka sendiri di tengah kekalahan pasar.

Sejumlah penjelasan terkait dengan pantulan pada Senin beredar, seperti proyeksi optimistis dari JPMorgan Chase & Co., hingga potensi penyeimbangan kembali pada akhir bulan yang mengharuskan pengelola dana untuk membeli saham.

Teori lainnya menunjukkan opsi kedaluwarsa pada Jumat lalu membuat pelaku pasar bebas untuk melepas short position yang sebelumnya dipertahankan untuk melindungi transaksi derivatif mereka.

"Yang kami tahu pasti adalah bahwa penilaian saham apa pun atau seluruh pasar bergantung pada apakah kepercayaan investor terhadap arus kas masa depan naik atau turun. Saat ini, kepercayaan diri sedang turun,” kata Nicholas Colas, pendiri DataTrek Research.

Menurutnya, hal itu bukan karena pasar saham sedang mengantisipasi potensi resesi. Sebaliknya, itu karena kemungkinan S&P 500 mendapat keuntungan dalam saluran yang luas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham bursa as wall street

Sumber : Bloomberg

Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top