Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jokowi Undang Investor dari Amerika Serikat, Ini Tantangannya Menurut Kadin

Pelaku usaha AS umumnya sangat sensitif terhadap isu korupsi dan ketidakpastian iklim usaha yang disebabkan oleh kebijakan yang tidak jelas, sering berubah-ubah tanpa penjelasan atau bahkan tidak konsisten pelaksanaannya.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 13 Mei 2022  |  19:18 WIB
Shinta Kamdani. Bisnis - Nurul Hidayat
Shinta Kamdani. Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA- Bertepatan dengan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Amerika Serikat dan bertemu dengan para petinggi bisnis di sana, peluang mendatangkan investasi pun terbuka.

Di lain sisi, Kamar Dagang Indonesia (Kadin) mengatakan investor Amerika Serikat (AS) sangat sensitif selain terhadap iklim usaha juga pada masalah transparan dan komunikasi kebijakan termasuk proses pembuatannya.

Hal itu seiring dengan ajakan Presiden kepada para pimpinan perusahaan untuk mempertimbangkan investasi di sektor ekonomi hijau dan digital Indonesia di Washington DC, Kamis (12/5/2022) waktu setempat.

Koordinator Wakil Ketua Umum III Kadin bidang Maritim Investasi dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani mengatakan pelaku usaha AS umumnya sangat sensitif terhadap isu korupsi dan ketidakpastian iklim usaha yang disebabkan oleh kebijakan yang tidak jelas, sering berubah-ubah tanpa penjelasan atau bahkan tidak konsisten pelaksanaannya.

Menurut Shinta, karena hal tersebut bisa dianggap sebagai pelanggaran di negara asalnya. Selain itu, pelaku usaha AS umumnya bermodal besar dengan jaringan usaha di hampir seluruh dunia sehingga bisa investasi di mana pun yang dianggap paling efisien, paling strategis dan paling sesuai dengan kebutuhan investasinya.

“Jadi kita, khususnya pemerintah, perlu sangat service-oriented dalam memberikan layanan-layanan perijinan usaha atau layanan publik lain yang diperlukan untuk mereka merealisasikan investasinya di Indonesia. Kalau perlu dikawal dan dibuat fast-track atau red carpet untuk memastikan semua kebutuhan realisasi investasinya berjalan lancar dan terpenuhi sesuai kebutuhan investor,” kata Shinta kepada Bisnis, Jumat (13/5/2022).

Shinta mengungkapakn untuk insentif pemerintah terhadap investos sudah cukup baik dan bersaing. Hanya saja konsistensi kebijakan di lapangan yang perlu diperhatikan.

“Dan tentu perlu terus ada reformasi struktural yg terus menerus meningkatkan daya saing iklim investasi kita dibanding negara-negara lain, khususnya kompetitor di kawasan,” kata Shinta.

Adapun sektor-sektor yang bakal menarik investor AS, Shinta menyampaikan masih banyak berminta pada pertambangan dan jasa. Selain itu, saat ini investor AS pun, lanjut Shinta berminat pada energi baru terbarukan dan digital.

Menurut Shinta, sejatinya yang diharapkan pihaknya agar investor AS berinvestasi di sektor manufaktur. Hanya saja, masih banyak kendala-kendala structural.

“Namun, ini tidak mudah karena kita punya banyak kelemahan di iklim usaha sektor manufaktur, khususnya dalam hal efisiensi biaya usaha, efisiensi supply chain dan juga dr segi ketersediaan skilled workers karena umumnya industry-industri AS membutuhkan advanced manufacturing, sementara Indonesia sejauh ini hanya pada simple manufacturing,” papar Shinta.

Oleh karena itu, Shinta mengatakan pemerintah perlu kerja keras untuk memperbaiki iklim investasinya agar jauh lebih menarik untuk investor-invest AS daripada negara-negara kompetitor meskipun ada gap kapabilitas tersebut. Misalnya dengan memudahkan ijin skilled workers asing di masa-masa awal investasi, fast track untuk impor sementara kita belum punya supply chain domestik yang memadai, dll,” pungkasnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top