Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jerman Pangkas Birokrasi Energi Demi Bangun Pusat LNG

Kabinet Federal Jerman memberi lampu hijau untuk rancangan undang-undang (RUU) yang memangkas proses perizinan fasilitas LNG.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 11 Mei 2022  |  19:10 WIB
Matahari terbenam di balik sistem derek pelabuhan dan turbin angin di Hamburg, Jerman. - neweurope.eu
Matahari terbenam di balik sistem derek pelabuhan dan turbin angin di Hamburg, Jerman. - neweurope.eu

Bisnis.com, JAKARTA - Jerman akan segera menjadi pusat gas alam cair (LNG) dalam setahun seiring dengan terminal impor baru yang memangkas ketergantungannya terhadap energi dari Rusia.

Kabinet Federal Jerman memberi lampu hijau untuk rancangan undang-undang (RUU) yang memangkas proses perizinan fasilitas tersebut menjadi sepersepuluh dari sebelumnya.

Pemerintah tengah merencanakan empat terminal apung yang dapat menggantikan 70 persen impor gas Rusia. Langkah ini menandai perubahan besar pada kebijakan energi setelah bertahun-tahun menolak LNG AS yang lebih mahal.

"Gangguan pada pasokan gas tidak dapat dikesampingkan pada situasi saat ini sehingga langkah hati-hati harus diambil. Perkembangan yang segera dan cepat untuk sumber gas yang mandiri mendesak," ujar Kementerian Perekonomian Jerman, seperti dilansir Bloomberg, Rabu (11/5/2022),

Jerman harus bergegas mencari alternatif gas setelah memutus hubungan dengan rezim Presiden Vladimir Putin di tengah peperangan di Ukraina.

Bagi negara yang menerima pasokan energi dari Rusia lebih dari separuhnya ini, fasilitas terbaru tersebut akan mencukupi sekitar sepertiga kebutuhan.

Chief Executive Officer Open Grid Europe, operator jaringan gas terbesar Jorg Bergmann mengatakan Pemerintah Jerman telah mampu membuat perubahan cepat pada perencanaan energinya untuk merespons risiko kekurangan gas.

"Seperti yang belum pernah dilakukan sebelumnya, Jerman mempercepat proyek-proyek [energi]. Kami dapat membangun infrastruktur dengan tepat waktu," ungkap Bergmann.

Perlu diketahui, Jerman sudah lama menolak LNG dari Amerika, mengabaikan upaya masa lalu untuk membangun terminal karena birokrasi yang terlalu panjang.

Pembeli menginginkan pasokan pipa yang lebih murah, tetapi pemerintah khawatir produk rekahan hidraulis (fracking) dari AS produk fracking dapat merusak lingkungan.

Invasi Rusia di Ukraina telah menyebabkan perubahan besar di Jerman. Aturan baru ini salah satunya akan menghapus pemeriksaan lingkungan untuk mempercepat konstruksi.

Menteri Ekonomi Robert Habeck di kota pelabuhan Wilhelmshaven mengatakan terminal apung yang sebelumnya butuh waktu bertahun-tahun untuk dibangun, kini fasilitas dapat selesai pada musim semi mendatang.

"Kami memiliki peluang bagus untuk melakukan apa yang sebenarnya tidak mungkin dilakukan di Jerman, [yakni] membangun terminal LNG dalam waktu sekitar 10 bulan dan menghubungkannya ke pasokan gas Jerman," kata Habeck.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gas jerman lng Rusia gas alam Perang Rusia Ukraina
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top