Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Belanja Produk Lokal Capai Rp220 Triliun dari Target Rp500 Triliun

Produk yang paling diminati atau paling banyak dicari saat business matching produk lokal, seperti tercatat di dashboard.kemenperin.go.id/bisma, meliputi paket infrastruktur, gedung, makanan, kendaraan, laptop, dan mebel.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 25 April 2022  |  22:51 WIB
Pekerja membuat alat cap batik di Sondakan, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (26/8/2020). Alat cap batik berbahan tembaga tersebut dijual seharga Rp300.000 hingga jutaan rupiah tergantung kualitas bahan dan tingkat kerumitan motif.  - Antara
Pekerja membuat alat cap batik di Sondakan, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (26/8/2020). Alat cap batik berbahan tembaga tersebut dijual seharga Rp300.000 hingga jutaan rupiah tergantung kualitas bahan dan tingkat kerumitan motif. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Belanja produk lokal yang dicanangkan Kementerian Perindustrian telah mencapai nilai komitmen Rp220,80 triliun per 25 April 2022. Nilai tersebut naik dari akhir bulan lalu sebesar Rp214 triliun.

Sementara itu, targetnya pun terkerek dari Rp400 triliun menjadi Rp500 triliun pada 31 Mei 2022. Nilai komitmen tersebut terdiri atas 34.123 paket produk dalam negeri dan melibatkan 6.579 perusahaan produsen produk dalam negeri.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita mengungkapkan produk yang paling diminati atau paling banyak dicari saat business matching, seperti tercatat di dashboard.kemenperin.go.id/bisma, meliputi paket infrastruktur, gedung, makanan, kendaraan, laptop, dan mebel.

"Tantangan bagi komoditas furnitur adalah harus adanya permintaan agar dapat masuk e-Katalog. Sehingga, IKM harus mempersiapkan banyak gambar produk untuk spesifikasi barang custom untuk produk jenis lemari, meja rapat, maupun meja kerja," kata Reni dalam keterangannya, Senin (25/4/2022).

Selain furnitur, ada juga mesin pertanian, pakaian, serta permesinan. Lebih lanjut, Reni mendorong agar IKM segera bergabung dengan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), katalog sektoral LKPP, dan Bela Pengadaan, agar produknya bisa dibelanjakan oleh kementerian/lembaga dan Pemda.

"Saat ini produk IKM telah tergabung ke dalam empat kategori Katalog Sektoral LKPP, yaitu peralatan listrik, mesin peralatan lainnya, mesin/peralatan teknologi tepat guna, dan perkakas tangan,” imbuhnya.

Adapun produk potensial di sektor makanan dan minuman, yaitu berupa makanan olahan, susu, simplisia, dan minuman herbal. Selain itu, ada pula produk industri aneka seperti mainan edukatif, alat olah raga, alat tulis dan gambar, perlengkapan kebersihan, produk IKM sandang dan kulit seperti batik, pakaian jadi, alas kaki dan tas, alat pelindung diri, dan goodybag.

Sedangkan untuk produk IKM kimia dan kerajinan yang potensial dibelanjakan yaitu hand sanitizer, disinfektan, dan produk kriya untuk home decor.

"Produk utama seperti alat kesehatan, mesin pertanian dan olahan pangan, serta perkakas pertanian/perkebunan yang kebutuhannya besar, juga diharapkan dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri terutama oleh IKM," ujarnya.

Selain itu, IKM juga bisa memasok kebutuhan lampu gedung, rumah sakit, sekolah, penerangan jalan raya, alat kesehatan, software lokal, dan produk inovasi industri 4.0.

Reni berharap, para pelaku IKM penghasil barang-barang potensial tersebut dapat menangkap peluang belanja pemerintah ini dengan terus meningkatkan kualitas produk dan kemampuan bisnisnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri produk lokal kementerian perindustrian
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top