Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jaga Daya Beli Masyarakat, Menparekraf Sandi Minta Pelaku Usaha Efisiensi

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno meminta industri pariwisata melakukan efisiensi supaya dapat bertahan dari kepungan kenaikan harga yang dikhawatirkan memangkas daya beli.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 05 April 2022  |  07:12 WIB
Menparekraf Sandiaga Uno  -  Kemenparekraf
Menparekraf Sandiaga Uno - Kemenparekraf

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan bahwa industri pariwisata terutama sektor hotel dan restoran masih dalam fase efisiensi usai tertekan parah akibat pandemi Covid-19.

Sandi mengatakan industri pariwisata merupakan salah satu sektor yang terdampak sangat signifikan akibat pandemi Covid-19. Pasalnya, industri ini sangat mengandalkan mobilitas manusia sedangkan saat pandemi, pergerakan manusia sangat dibatasi untuk menekan penyebaran Covid-19.

Pelonggaran mobilitas saat ini diakuinya menjadi sentimen positif untuk mendukung pemulihan industri pariwisata. Sayangnya, pelonggaran mobilitas ini terbentur dengan adanya kenaikan harga sejumlah komoditas, mulai dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN), energi hingga bahan pokok yang akan menghambat pemulihan daya beli masyarakat mengingat pariwisata merupakan kebutuhan tersier.

“Setiap ada gejolak cost of living, tentunya akan berdampak pada sektor pariwisata, karena pariwisata untuk masyarakat kebanyakan adalah kebutuhan tersier,” kata Sandi dalam Weekly Press Briefing Kemenparekraf, Senin (4/4/2022).

Sandi melaporkan bahwa kementeriannya akan memberikan stimulus kepada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dengan memperkuat rantai pasok, yang mana industri tersebut harus bertransisi dari sebelum pandemi ke fase setelahnya.

Sandi menjelaskan bahwa ada tiga hal yang memperkuat transisi tersebut, yaitu penurunan biaya, inovasi, serta memperluas pasar yang ada. Ketiga hal tersbeut diyakini akan memperbaiki cost competitive.

“Produk pariwisata tidak bisa terlalu dinaikkan harga, justru harus diturunkan cost-nya dengan efisiensi-efisiensi,” ujar Sandi.

Berdasarkan data dari Kemenparekraf, kuliner menyumbang pendapatan 41,5 persen di sektor pariwisata. Sandi meminta para pelaku usaha di bidang kuliner untuk lebih inovatif sehingga dapat bersaing, meskipun harga bahan pangan dengan bergejolak seperti saat ini.

“Saya cukup optimis sektor parekraf ini dapat menyikapi peningkatan harga bapok, inflasi di depan mata, mari kita bergandengan tangan kita dukung produk lokal untuk kebangkitan ekonomi dan pemulihan Parekraf,” ungkap Sandi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menyampaikan bahwa saat ini pelaku hotel dan restoran masih terus melakukan efisiensi.

“Walaupun kelihatannya sudah membaik, tapi kami masih melakukan efisiensi untuk menghadapi kondisi saat ini,” ujar Maulana, Senin (4/4/2022).

Maulana meminta pemerintah untuk tidak hanya menyimpulkan hanya dari traffic saja. Pergerakan mungkin meningkat, okupansi mungkin meningkat, tetapi pengusaha masih perlu menutup kekurangan akibat pandemi dua tahun ini.

“Kita berharap pemerintah tidak hanya melihat traffic, tidak bisa lihat disitu. Tahun depan program relaksasi dari OJK [Otoritas Jasa Keuangan] akan selesai, dan pelaku usaha harus menghadapi kondisi tersebut, padahal belum pulih dari pandemi,” ungkapnya.

Maulana juga turut mengingatkan bahwa tujuan dari pemulihan ini adalah menyelamatkan usaha dan tenaga kerja.

“Kalau usahanya selamat, otomatis serapan tenaga kerjanya meningkat,” katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pariwisata phri sandiaga uno daya beli
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top