Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemerintah Klaim Kendala Kereta Cepat Jakarta-Bandung Tuntas, Bakal Rampung 2023

Mundurnya waktu pengerjaan sehingga sempat tertunda 3 bulan – 4 bulan lantaran persoalan teknis geologis air yang volumenya besar di dalam terowongan atau tunnel. Pemerintah menargetkan Proyek KCJB ini akan tuntas juni 2023.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 01 April 2022  |  18:38 WIB
Pemerintah Klaim Kendala Kereta Cepat Jakarta-Bandung Tuntas, Bakal Rampung 2023
Presiden Jokowi meninjau progres pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), Senin (17/1/2022), di Purwakarta, Jabar - Humas Setkab - Agung\\r\\n
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut B. Pandjaitan menjelaskan saat ini sudah tidak ada kendala pendanaan dari proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB).

“Pembengkakan biaya [overrun cost] sudah dibicarakan dan diaudit oleh BPKP. Presiden Joko Widodo sudah memberikan arahan jangan sampai meleset jadwalnya,” ujarnya, Jumat (1/4/2022).

Luhut menjelaskan persoalan sedikit mundurnya waktu pengerjaan sehingga sempat tertunda 3 bulan – 4 bulan lantaran persoalan teknis geologis air yang volumenya besar di dalam terowongan atau tunnel. Luhut menegaskan Proyek KCJB ini akan tuntas juni 2023.

Meski demikian, dia juga memastikan bahwa pada November 2022 saat penyelenggaraan G20, uji coba KCJB sudah bisa dilakukan dari Plered sampai Tegalluar. Dengan demikian Presiden Jokowi dan beberapa Kepala Negara lainnya dapat mengikuti uji  coba tersebut.

“Semua terintegrasi di sana nggak usah khawatir soal schedule. Saya bersama pak Menhub [Budi Karya Sumadi] dan pak Tiko [Wamen II BUMN] memantau perkembangannya,” tekan Luhut.

Proyek KCJB pun disebut telah berjalan 80 persen hingga saat ini. PT Kereta Cepat Indonesia China atau KCIC menyebut target mulai beroperasi pada Juni 2023 masih bisa terwujud, meskipun terdapat sejumlah kendala sebelumnya.

Direktur Utama PT KCIC Dwiyana Slamet Riyadi mengatakan bahwa sempat terdapat sejumlah kendala terkait dengan pembangunan terowongan dan pendanaan. Kendati demikian, dia mengatakan saat ini kendala sudah teratasi.

Pada sisi pembangunan terowongan, Dwiyana mengatakan kendala yang terjadi disebabkan oleh kondisi geologi yang memengaruhi progres pembangunan utamanya tunnel atau terowongan 2, yakni karena dibangun di tanah lempung sehingga mengurangi daya dukung tanah sampai dengan 80 persen.

"Sepanjang 1.050 meter terowongan 2 ini semuanya adalah tanah clay shale [lempung]. Dulu pas perencanaan dihitung terkait dengan kondisi itu dan masih dimungkinkan untuk dilakukan pembangunan tunnel. Karena kita tidak mungkin lagi membelokkan atau merelokasi trasenya. Banyak pertimbangan, jadi perencanaan bagaimana harus lewat tanah clay shale  dan harus ada tunnel di sini," jelasnya, Rabu (30/3/2022). 

Namun, Dwiyana menyebut telah mengatasi kendala pembangunan terowongan sepanjang 1.050 meter (m) ini. Upaya yang dilakukan yakni dengan metode grouting untuk membantu daya dukung tanah, dengan melibatkan ahli dari China dan juga Institut Teknologi Bandung (ITB).

Selain terowongan 2, kendala yang hampir sama terjadi di terowongan 4. Namun, Dwiyana memastikan keduanya akan rampung sebelum akhir kuartal II/2022. Jika dihitung secara keseluruhan, ada total 13 terowongan yang dibangun untuk jalur kereta cepat Jakarta--Bandung, dan 11 di antaranya sudah dinyatakan rampung.

"Ini sudah OK, tinggal proses penggalian dan ditargetkan tunnel 2 pada bulan Mei [2022] selesai. Jadi, tinggal kurang dua tunnel saja yakni 2 dan 4 yang kurang lebih sama kendalanya, dan pada April ini selesai," kata Dwiyana.

Pada sisi pendanaan, pandemi Covid-19 disebut sempat memperlambat setoran modal untuk pembangunan dari pihak pemilik saham PT KCIC yakni BUMN Indonesia PT Pilar Sinergi BUMN (PSBI), dan konsorsium perusahaan perkeretaapian China yakni Beijing Yawan HSR Co.Ltd.

Kendati demikian, Dwiyana mengatakan sejak Januari aliran dana permodalan sudah turun dari kedua pihak pemegang saham PT KCIC.
"Jadi saat ini kalau pendanaan sudah tidak ada masalah, tapi sempat karena kondisi [pandemi] Covid-19, dari BUMN shareholders mengalami kendala untuk melakukan setoran modal. Sehingga, di lapangan terjadi slowdown karena relatif tidak ada pendanaan yang bisa kita bayarkan ke kontraktor. Tapi sejak Januari clear, bisa kita bayarkan," jelas Dwiyana.

Selain itu, China Development Bank (CBD) sebagai salah satu penyalur sumber pendanaan pembangunan kereta cepat, melalui kredit perbankan, menyalurkan pinjaman pada Maret ini. Bisnis mencatat pinjaman mencapai US$4,55 miliar atau setara Rp64,9 triliun. Sementara itu, pemerintah juga menginvestasikan uangnya sebesar Rp4,3 triliun melalui Penyertaan Modal Negara (PMN). 

Adapun, struktur pembiayaan kereta cepat yakni 75 persen dari nilai proyek dibiayai oleh CDB dan 25 persen oleh ekuitas konsorsium. Dari 25 persen tersebut, 60 persen berasal dari konsorsium Indonesia karena menjadi pemegang saham mayoritas. Dwiyana mengatakan saat ini tengah melakukan negosiasi terkait dengan pendanaan cost overrun, yang akan disepakati besaran angkanya oleh PBSI dan Beijing Yawan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kereta Cepat Luhut Pandjaitan
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top