Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pemerintah AS Usulkan Pajak Minimum Bagi Miliarder di Negaranya

Pajak minimum tersebut bertujuan untuk memastikan agar orang terkaya di AS tidak lagi membayar tarif pajak yang lebih rendah dari guru dan petugas pemadam kebakaran.
Presiden AS Joe Biden di Washington, AS, September 2021./Antara-Reuters
Presiden AS Joe Biden di Washington, AS, September 2021./Antara-Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Joe Biden rencananya akan mengusulkan pajak minimum baru saat mengumumkan rancangan anggaran tahun 2023. Pajak minimum baru itu, sebagian besar akan menyasar miliarder di negara adidaya tersebut.

Pajak minimum yang disebut sebagai Pajak Penghasilan Minimum Miliarder bertujuan untuk memastikan agar orang terkaya di AS tidak lagi membayar tarif pajak yang lebih rendah dari guru dan petugas pemadam kebakaran. Demikian dilansir dari CNBC, Minggu (27/3/2022).

Berdasarkan dokumen yang diterima CNBC, pemerintah AS mengenakan tarif pajak minimum 20 persen untuk para miliarder dengan pendapatan lebih dari US$100 juta. Lebih dari setengah pendapatan bisa datang dari miliarder dengan pendapatan lebih dari US$1 miliar.

Retribusi yang diusulkan, diharapkan bisa mengurangi defisit sekitar US$360 miliar di negara adidaya tersebut dalam dekade berikutnya, menurut dokumen tersebut.

Dokumen tersebut menjelaskan, apabila para miliarder sudah membayar 20 persen dari pendapatan penuh mereka, maka mereka tidak perlu membayar pajak tambahan.

Sebaliknya, jika mereka membayar kurang dari 20 persen, maka para miliarder akan berhutang 'top-up payment' untuk memenuhi pajak minimum tersebut.

Akibatnya, pajak minimum baru tersebut akan menghilangkan kemampuan pendapatan yang belum direalisasi dari rumah tangga sangat kaya untuk tidak dikenai pajak selama beberapa dekade atau generasi.

Proposal pajak baru merupakan bagian dari rancangan anggaran tahun 2023 Biden, yang rencananya bakal dirilis pada Senin, waktu setempat.

Menurut rilis dari Gedung Putih, rencana tersebut akan memangkas US$1,3 triliun dari defisit selama dekade berikutnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper