Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Akibat Perang Rusia - Ukraina, HBA Maret Meroket US$203,69 per Ton

HBA Maret meningkat US$15,31 per ton dibandingkan dengan Februari 2022 yakni US$188,38 per ton. Penguatan ini terjadi seiring dengan ketegangan antara Rusia dan Ukraina hingga membuat harga komoditas ini melambung tinggi.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 07 Maret 2022  |  16:13 WIB
Akibat Perang Rusia - Ukraina, HBA Maret Meroket US$203,69 per Ton
Sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (14/1/2022). ANTARA FOTO - Nova Wahyudi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batu bara acuan (HBA) Maret 2022 sebesar US$203,69 per ton seiring dengan ketegangan antara Rusia dan Ukraina.

HBA Maret meningkat US$15,31 per ton dibandingkan dengan Februari 2022 yakni US$188,38 per ton. Penguatan ini terjadi seiring dengan ketegangan antara Rusia dan Ukraina hingga membuat harga komoditas ini melambung tinggi.

"Konflik ketegangan geopolitik yang terjadi di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina menyebabkan ketidakpastian pada pasokan gas," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangan resmi, Senin (7/3/2022).

Dia menuturkan bahwa Rusia merupakan salah satu produsen gas terbesar di dunia, sehingga konflik dengan Ukraina menyebabkan terjadinya kendala dalam pasokan gas di Eropa.

Untuk menutupi kebutuhan tersebut, sejumlah negara di Benua Biru mulai beralih menggunakan batu bara sebagai sumber energi. Dua di antaranya adalah Jerman dan Italia. Gas dari Rusia berkontribusi sekitar 49 persen dari total kebutuhan Jerman dan 46 persen dari total kebutuhan Italia pada 2020.

HBA merupakan harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%.

Nantinya kata Agung, harga ini akan digunakan secara langsung dalam jual beli komoditas batu bara (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).

Secara sederhana, setidaknya terdapat dua faktor turunan yang mempengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand. Pada faktor turunan supply dipengaruhi oleh cuaca, teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

Untuk diketahui, HBA tertinggi pernah ditetapkan Kementerian ESDM pada November 2021 sebesar US$215,01 per ton. Rekor ini terjadi seiring dengan tingginya permintaan batu bara selama krisis energi tahun lalu. Peningkatan permintaan ini semakin besar setelah sejumlah negara di belahan utara mulai bersiap menghadapi musim dingin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara kementerian esdm Perang Rusia Ukraina
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top