Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dampak Invasi Rusia ke Ukraina, Indonesia Ketiban Durian Runtuh?

Invasi Rusia ke Ukraina diperkirakan mengerek naik harga migas maupun komoditas energi lainnya.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 24 Februari 2022  |  15:34 WIB
Anjungan minyak di Teluk Meksiko, AS -  Bloomberg
Anjungan minyak di Teluk Meksiko, AS - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga komoditas energi baik minyak dan gas maupun mineral akan meroket seiring dengan invasi Rusia ke Ukraina sejak Kamis (24/2/2022) waktu setempat. Indonesia turut terdampak dari konflik geopolitik di Eropa Timur. 

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan memastikan harga migas maupun komoditas energi lainnya akan terkerek. Di satu sisi, kondisi ini akan menjadi durian runtuh alias windfall bagi Indonesia dengan penguatan pada harga komoditas. 

“Secara otomatis ke depan PNBP [pendapatan negara bukan pajak] akan meningkat. Kemudian juga dari sisi pajak akan mengalami kenaikan,” katanya kepada Bisnis, Kamis (24/2/2022). 

Kondisi ini diharapkan dapat dijadikan momentum untuk mencapai target lifting serta produksi tahunan maupun hingga 2030. Selain itu, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dapat berlomba untuk meningkatkan pengeboran sehingga dapat menjaga maupun meningkatkan produktivitas mereka. 

Momentum ini agaknya perlu menjadi pemicu bagi percepatan penerapan teknologi enhanced oil recovery atau EOR. Langkah ini perlu segera dikebut untuk mencapai target lifting migas 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD)  pada 2030. 

“Serta kegiatan eksplorasi saya harapkan bisa tumbuh [di tengah penguatan harga komoditas[,” terangnya. 

Di sisi lain, ketegangan di Eropa Timur akan memberi pukulan bagi sektor hilir. Dari penguatan harga migas dunia, beban subsidi akan naik akibat harga minyak penguat. Kondisi ini juga akan berdampak pada peningkatan Indonesian crude price (ICP). 

Beban subsidi ini tidak hanya terjadi pada sektor kelistrikan, akan tetapi turut terjadi pada sektor bahan bakar. Bila situasi ini terus terjadi bukan tidak mungkin akan terjadi kenaikan inflasi. 

“Pastinya Pertamina akan semakin terpukul kalau misalnya Pertamax dan Pertalite tidak dinaikan. Kecuali pemerintah mau memberikan kompensasi menjadi 100 persen. Kalau kita lihat dari Perpres 117/2021 hanya 50 persen [dikompensasi] itupun dengan komposisi campur Premium,” terangnya. 

“Saya pastikan sektor komoditas lainya turut mengalami kenaikan, untuk komoditas mineral bahkan komoditas pertanian seperti CPO ikut mengalami kenaikan karena kekhawatiran pasar akan kurangnya pasokan kalau invasi ini benar-benar meluas.”

Data Bloomberg hingga 12.16 WIB mencatat minyak Brent melonjak 4,65 persen atau 4,50 poin ke US$101,34 per barel sementara minyak WTI naik 4,59 persen atau 4,23 poin ke US$96,33 per barel. 

Mengutip Bloomberg, Kamis (24/2/2022), lonjakan harga minyak merupakan kombinasi yang mengkhawatirkan bagi Federal Reserve AS dan sesama bank sentral karena mereka berusaha menahan tekanan harga terkuat dalam beberapa dekade tanpa menggagalkan pemulihan ekonomi dari pandemi.

Selain itu batu bara turut mengalami lonjakan 1,45 poin untuk kontrak Februari pada level US$237,70 per metrik ton pada Rabu (23/2/2022). Penguatan terjadi paling besar untuk kontrak Maret dan April masing-masing 12,40 poin (menjadi US$237,15 per metrik ton) dan 11,60 poin (menjadi US$212,10 per metrik ton).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

migas komoditas rusia Krisis Ukraina
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top