Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemerintah Resmikan Proyek Gasifikasi Batu Bara untuk Kurangi Impor LPG

Proyek gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, dimaksudkan sebagai upaya untuk mengurangi impor LPG Indonesia.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 24 Januari 2022  |  11:00 WIB
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengunjungi lokasi proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol milik PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang terletak di Kutai Timur, Kalimantan Timur, Rabu (19/1/2022). - BKPM
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengunjungi lokasi proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol milik PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang terletak di Kutai Timur, Kalimantan Timur, Rabu (19/1/2022). - BKPM

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, Senin (24/1/2022). Proyek gasifikasi batu bara ini juga merupakan upaya untuk mengurangi impor LPG Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa investasi ini berasal dari Air Products and Chemicals, Inc, perusahaan internasional yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

Bahlil menyebut proses kerja sama investasi Air Products dengan Indonesia sudah berlangsung sejak 2020. Pada November 2021, akhirnya kedua pihak menandatangani Memorandum of Understanding atau MoU investasi senilai US$15 miliar atau setara dengan Rp210 triliun untuk proyek gasifikasi batu bara di Indonesia.

"Kemarin kita di Dubai akhir bulan November, kita tanda tangan MoU investasi Air Products sebesar US$15 miliar. Air Products ini kerja sama dengan PT Bukit Asam dan PT Pertamina, kerjanya di wilayah Sumatera Selatan," jelas Bahlil kepada Presiden Jokowi pada sambutannya, Senin (24/1/2022).

Bahlil lalu menjelaskan realisasi investasi pada proyek gasifikasi batu bara ini sebesar Rp33 triliun dalam waktu 36 bulan atau tiga tahun. Kendati demikian, dia menyebut telah meminta pihak Air Products untuk bisa mempercepat realisasi hingga menjadi 30 bulan.

Mantan Ketua HIPMI ini lalu menyampaikan bahwa investasi hingga ratusan triliun ini murni sepenuhnya dari AS. Menurutnya, hal tersebut bisa meluruskan persepsi bahwa Indonesia hanya menerima investasi dari negara tertentu saja.

Bahlil bahkan mengklaim bahwa investasi ini merupakan yang terbesar dari AS setelah Freeport untuk tahun ini. "Ini Amerika investasi cukup gede, investasi kedua terbesar setelah Freeport untuk tahun ini," jelasnya.

Di sisi lapangan pekerjaan, investasi ini disebut akan menghasilkan hingga 13.000 lapangan pekerjaan dari sisi konstruksi atau sisi hulu. Nantinya, investasi ini juga akan menciptakan lapangan pekerjaan pada sisi hilir hingga 12.000 lapangan pekerjaan, yang disiapkan oleh PT Pertamina.

"Ditambah lagi setelah existing, nanti lapangan pekerjaan tetap itu 3.000 secara langsung. Kalau yang tidak langsung, itu bisa mencapai 3-4 kali lipat dari yang ada," ucap Bahlil.

Poin terpenting, kata Bahlil, output dari proyek gasifikasi batu bara ini bisa mengurangi impor gas LPG Indonesia, yang per tahunnya mencapai rata-rata 6-7 juta ton LPG. Investasi ini ditargetkan menghasilkan output Dimetil Eter (DME) 1,4 juta ton per tahunnya, atau setara dengan 1 juta ton LPG.

"Dalam perhitungan kami, setiap 1 juta ton [DME], setiap satu juta ton hilirisasi, efisiensi [impor LPG] kurang lebih mencapai Rp6 triliun sampai Rp7 triliun. Tidak ada alasan untuk kita tidak dukung hilirisasi untuk melahirkan substitusi impor," tutup Bahlil.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara hilirisasi lpg
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top