Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bye Alibaba dan Tencent! China Alihkan Perhatian ke Perusahaan Teknologi Kecil

China berhasil melahirkan perusahaan bervaluasi miliaran dolar seperti pionir e-commerce Alibaba, raksasa media sosial Tencent dan ByteDance Ltd., yang menciptakan aplikasi video pendek TikTok.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 24 Januari 2022  |  16:55 WIB
Seorang pejalan kaki melewati logo Alibaba di China -  Bloomberg
Seorang pejalan kaki melewati logo Alibaba di China - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Kemunculan raksasa kecil teknologi semakin mendapat dukungan dari pemerintah China seiring dengan peralihan fokus dari industri teknologi lunak seperti Alibaba Group Holding Ltd., dan Tencent Holdings Ltd., ke teknologi keras.

Selama dua dekade, China lebih mengekor model Sillicon Valley memberikan dukungan kepada para pengusaha teknologinya dengan sedikit campur tangan pemerintah.

Hasilnya, China berhasil melahirkan perusahaan bervaluasi miliaran dolar seperti pionir e-commerce Alibaba, raksasa media sosial Tencent dan ByteDance Ltd., yang menciptakan aplikasi video pendek TikTok.

Namun, dalam serangkaian langkah regulasi selama setahun terakhir, Beijing memperjelas bahwa industri teknologi harus menyesuaikan diri dengan prioritas pemerintah.

Alibaba dan Tencent dipaksa untuk menghentikan praktik monopoli, sementara perusahaan gim harus membatasi anak di bawah umur untuk bermain online tiga jam per pekan.

Hal ini mengisyaratkan bahwa layanan internet lunak tidak disukai. Alhasil, Beijing mengalihkan perhatiannya ke industri teknologi perangkat keras seperti robotik, komputasi kuantum, dan semikonduktor agar lebih bersaing dengan Silicon Valley.

Salah satunya adalah Wu Gansha yang berhasil mendapatkan status raksasa kecil setelah mendirikan perusahaan rintisan kendaraan otonom, Uisee. Perusahaan asal Beijing ini meraih pendanaan hingga 1 miliar yuan atau setara US$157 juta pada tahun lalu, termasuk dari BUMN. Uisee berhasil menjadi unicorn dengan valuasi senilai US$1 miliar.

"Ini sebuah kehormatan memegang label raksasa kecil. Esensi proyek ini adalah perusahaan harus memiliki keisitimewaan yang tidak dimiliki oleh yang lainnya," kata Wu seperti dikutip Bloomberg pada Senin (24/1/2022).

Label raksasa kecil juga telah menjadi ukuran berharga dari dukungan pemerintah yang menjadi sinyal bagi para investor bahwa perusahaan-perusahaan dengan label ini bakal terlindungi dari hukuman pembuat kebijakan.

Presiden China Xi Jinping bahkan telah mengungkapkan harapan besarnya pada program ini.

"Ini sangat membantu perusahaan startup dari berbagai sisi: Ini adalah bentuk subsidi. Ini adalah penghargaan. Ini adalah kehormatan. Ini adalah tanda disetujui," kata Managing Director perusahaan ventura, Sinovation Lee Kai-Fu.

Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China (MIIT) telah menyebutkan terdapat 4.762 perusahaan raksasa kecil sejak 2019. Kebanyakan berasal dari sektor semikonduktor, permesinan, dan farmasi.

Sejumlah insentif juga telah disiapkan seperti pemotongan pajak, pinjaman murah, dan kebijakan rekrutmen talenta yang menguntungkan.

“Apa yang coba dipromosikan negara ini adalah teknologi keras. Ini lebih sesuai dengan apa yang mereka coba promosikan – hal-hal yang membuat China lebih kompetitif,” kata Yipin Ng, mitra pendiri Yunqi Partners, dana ventura yang berinvestasi di raksasa kecil.

Selain itu, Chief Operating Officer (COO) ForwardX Robotics Guan Yaxin mengatakan proses pengembangan bisnis relatif lancar karena telah membuktikan inovasi yang cemerlang dengan 121 paten secara global, termasuk 25 di Amerika Serikat.

"Dukungan pemerintah ini sangan membantu ketika saya memperluas bisnis karena klien akan memahami bahwa kami bukanlah startup sembarangan," ujar Guan.

Pada Januari, Kementerian Keuangan bahkan menyiapkan 10 miliar yuan untuk mendanai perusahaan kecil dan menengah, utamanya startup hingga 2025. Targetnya adalah menciptakan 10.000 raksasa kecil pada 2025.

"[Beijing] memilih mereka karena perusahaan itu memang bagus, tetapi kriteria lain yang penting adalah mereka memenuhi kebutuhan kebijakan darurat pemerintah saat ini," terang ekonom University of California Barry Naughton.

Di sisi lain, dukungan terus menerus ke industri seperti Alibaba dan ByteDance menimbulkan risiko substansial. Membalik model untuk fokus pada prioritas pemerintah berisiko mengarah pada pemborosan dan kegagalan, kata Naughton.

Perlu diketahui, konsep raksasa kecil ini pertama kali diperkenalkan pada 2005 ketika pemerintah lokal Provinsi Hunan hendak mendukung usaha kecil. Langkah ini didukung oleh pemerintah pusat dengan bantuan seperti tanah dan finansial. Program ini dicontoh oleh daerah lainnya seperti di Tianjin.

Pemerintah pusat mulai serius mendorong program ini seiring dengan perang dagang AS - China pada 2018. MIIT mengumumkan akan menciptakan 600 raksasa kecil yang dapat mengembangkan teknologi inti.

Para kandidat dapat mendaftarkan usahanya dengan menyertakan enam lembar yang menjelaskan status keuangannya, jumlah patennya, dan pencapaian risetnya. Jumlah kandidat dibatasi hanya belasan setiap provinsi di China.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china tencent alibaba
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top