Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ikagi: Dampak Impor Gula ke Harga Tebu Tergantung Waktu Importasi

Alokasi impor gula mentah untuk gula kristal putih (GKP) tidak akan berdampak signifikan jika data yang dipakai tepat.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 11 Januari 2022  |  22:11 WIB
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (8/8). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (8/8). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA — Dampak impor gula mentah untuk pemenuhan konsumsi terhadap harga tebu petani lokal akan sangat dipengaruhi oleh waktu kedatangan komoditas tersebut ke dalam negeri.

Ketua Umum Ikatan Ahli Gula (Ikagi) Aris Toharisman mengatakan alokasi impor gula mentah untuk gula kristal putih (GKP) telah dihitung dengan mengacu pada neraca produksi dan konsumsi. Selama data yang dipakai tepat, dia berpendapat tidak akan terlalu bermasalah.

"Produksi kita tahun lalu 2,3 juta ton dan konsumsi langsung mencapai 3,1 juta ton, jadi memang defisit. Angkanya [impor] sudah tepat, tetapi kembali lagi pada waktu importasinya. Jangan sampai jatuh saat musim giling," kata Aris yang juga menjabat sebagai Direktur PT Sinergi Gula Nasional (SGN), perusahaan pengelola pabrik gula di bawah PTPN Holding, pada Selasa (11/1/2022).

Aris menyatakan alokasi impor juga telah mempertimbangkan potensi naiknya kebutuhan jelang Ramadan. Hal ini terlihat dari alokasi impor untuk PTPN yang mencapai 250.000 ton. Alokasi ini terdiri atas 150.000 ton GKP konsumsi untuk PTPN Holding dan 100.000 ton gula mentah untuk BUMN lainnya seperti PT Rajawali Nusantara Indonesia dan PTPN X.

Dia mengatakan proses tender untuk pemasukan gula telah dimulai. GKP konsumsi diperkirakan mulai masuk pada Februari untuk persiapan pasokan jelang hari besar, sementara gula mentah diperkirakan akan masuk pada April dan Mei.

"Jadi saya kira untuk stabilisasi harga bisa berjalan karena BUMN juga mendapat alokasi. Sementara impor gula mentah yang bersamaan dengan masa giling tidak akan terlalu berpengaruh ke harga karena diimpor pabrik berbasis tebu. Tebu akan tetap habis diserap pabrik," katanya.

Sampai pekan terakhir 2021, stok gula yang tersebar di pabrik gula swasta dan BUMN, maupun stok di Bulog mencapai 1,10 juta ton. Dengan asumsi konsumsi rata-rata bulanan sebanyak 260.000 ton, stok tersebut bisa memenuhi kebutuhan selama 4,23 bulan atau sampai awal Mei 2022.

Sebelumnya, laporan rapat koordinasi terbatas tingkat Menteri Bidang Perekonomian pada 26 Oktober 2021 terkait pemenuhan kebutuhan gula sebelum dimulai musim giling 2022 dan antisipasi kenaikan permintaan menjelang HBKN yang diterima Bisnis memperlihatkan bahwa alokasi gula mentah yang setara dengan GKP mencapai 891.627 ton.

Alokasi diberikan untuk pelaksanaan Permenperin No. 10/2017. Di luar itu, diperlukan iron stock untuk stabilisasi harga gula 2022 sebesar 150.000 ton setara GKP yang akan diserahkan kepada Kementerian BUMN.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tebu impor gula
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top