Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonom Mandiri Beberkan Risiko untuk Ketahanan Sektor Eksternal RI di 2022

Ketidakpastian terkait dengan kondisi pandemi Covid-19 juga dinilai sebagai faktor yang harus terus diantisipasi. Contohnya, varian baru Omicron yang saat ini memicu kenaikan kasus Covid-19.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 10 Januari 2022  |  06:07 WIB
Siluet gedung-gedung bertingkat di Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P
Siluet gedung-gedung bertingkat di Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Sektor eksternal Indonesia pada 2022 dinilai akan mengalami sejumlah tantangan. Sejumlah faktor seperti meningkatnya kebutuhan impor, gangguan rantai pasok, dan ketidakpastian pandemi menjadi risiko negatif atau downside risk di tahun ketiga pandemi.

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan laju impor yang akan semakin pesat mengejar ekspor sejalan dengan pemulihan ekonomi. Hal ini, tambah Faisal, akan menyebabkan mengecilnya surplus neraca dagang yang sebelumnya mencetak rekor hingga 19 bulan berturut-turut di 2021.

Hal tersebut bisa berdampak pada transaksi berjalan yang diperkirakan akan kembali membukukan defisit (current account deficit/CAD) sekitar -2,15 persen terhadap PDB.

"Akan tetapi, angka perkiraan tersebut masih lebih sempit dibandingkan dengan level rata-rata defisit selama tiga tahun prapandemi yaitu -2,22 persen terhadap PDB," jelas Faisal dalam pernyataan resmi, Jumat (7/1/2022).

Risiko lain dari neraca keuangan Indonesia 2022 berasal dari gangguan rantai pasok dan meningkatnya tekanan inflasi, sehingga menyebabkan normalisasi kebijakan moneter yang lebih cepat dari yang diantisipasi. Risiko tersebut berpotensi membayangi potensi aliran modal asing untuk masuk ke pasar keuangan dalam negeri, atau capital inflow.

"Ini tentunya bisa memicu flight to quality atau risk-off sentiments," tambah Faisal.

Ketidakpastian terkait dengan kondisi pandemi Covid-19 juga dinilai sebagai faktor yang harus terus diantisipasi. Contohnya, varian baru Omicron yang saat ini memicu kenaikan kasus Covid-19.

Kendati berbagai faktor tersebut, Faisal memperkirakan neraca pembayaran (balance of payment) di akhir 2022 masih bisa membukukan surplus, meskipun tidak setinggi pencapaian 2021.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor bank mandiri rantai pasok omicron
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top