Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Strategi Pupuk Indonesia Pastikan Akses Pupuk Nonsubsidi

Realisasi produksi pupuk perseroan milik negara itu mencapai 12.235.419 ton di tahun 2021. Angka tersebut setara 100,01 persen dari rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) yang ditetapkan 12.234.000 ton.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 09 Januari 2022  |  23:28 WIB
PT Pupuk Indonesia (Persero) memberikan penghargaan kepada pemenang Fertinnovation Challenge 2021. - Istimewa
PT Pupuk Indonesia (Persero) memberikan penghargaan kepada pemenang Fertinnovation Challenge 2021. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pupuk Indonesia (Persero) berupaya untuk memberikan harga jual pupuk nonsubsidi kepada petani di bawah harga pasar global yang belakangan naik signifikan.

Senior Vice President Komunikasi Korporat Pupuk Indonesia Wijaya Laksana mengatakan langkah itu diambil untuk memastikan akses pupuk nonsubsidi kepada petani dapat terjaga di tengah kenaikan harga pupuk internasional.

“Pupuk Indonesia sudah berusaha menurunkan harga pupuk di bawah harga internasional. Berdasarkan Fertecon, harga urea dunia sudah di kisaran US$900 hingga US$1.000 per ton,” kata Wijaya, Minggu (9/1/2022).

Hanya saja, Wijaya mengatakan, langkah itu tidak dapat dilakukan secara intensif. Alasannya, manuver untuk menurunkan harga terlalu jauh dari harga pasar dapat menimbulkan penyimpangan.

“Tentu tidak bisa jual terlalu murah juga karena bisa jadi rawan penyimpangan. Misalnya dibeli lalu dijual lagi keluar negeri dan juga kita menyalahi mekanisme pasar internasional,” tuturnya.

Adapun, realisasi produksi pupuk perseroan milik negara itu mencapai 12.235.419 ton di tahun 2021. Angka tersebut setara 100,01 persen dari rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) yang ditetapkan 12.234.000 ton. Perinciannya, Pupuk Urea sebesar 7.967.817 ton, NPK sebesar 3.169.247 ton, SP-36 sebesar 325.137 ton, ZA sebesar 759.194, ZK sebesar 14.024 ton.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memproyeksikan harga pupuk non subsidi bakal mengalami kenaikan sepanjang tahun 2022 akibat melonjaknya harga bahan baku di tingkat global. Kenaikan harga pupuk itu belakangan ikut andil memengaruhi inflasi pada komoditas pangan awal tahun ini.

Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kemendag Isy Karim mengatakan kementeriannya tengah berkoordinasi dengan produsen pupuk dalam negeri untuk menjaga harga pupuk nonsubsidi tetap stabil di tengah gejolak harga dunia. Pemerintah menargetkan produsen dalam negeri dapat memberikan harga di bawah harga internasional untuk menjaga akses pupuk bagi petani.

“Kenaikan harga pupuk nonsubsidi disebabkan oleh melonjaknya harga berbagai komoditas dunia seperti amonia, phosphate rock, KCL, gas dan minyak bumi karena pandemi, krisis energi di Eropa serta adanya kebijakan beberapa negara yang menghentikan ekspornya,” jelasnya, Minggu (9/1/2022).

Berdasarkan data World Bank-Commodity Market Review per 4 Januari 2022, Pupuk Urea dan diamonium fosfat (DAP) mengalami kenaikan yang signifikan. Sepanjang Januari hingga Desember 2021 misalnya, harga diamonium fosfat (DAP) di pasar internasional mengalami kenaikan sebesar 76,95 persen. Saat awal tahun lalu, harga pupuk itu mencapai US$421 per ton, pencatat itu berakhir di posisi US$745 per ton pada Desember 2021.

Di sisi lain, Pupuk Urea mengalami peningkatan harga mencapai 235,85 persen sepanjang tahun lalu. Pupuk Urea sempat berada di harga US$265 per ton belakangan naik menjadi US$890 per ton pada Desember 2021.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN pupuk petani Pupuk Indonesia
Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top