Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Nilai Tukar Negara Berkembang Terancam Kemunculan Varian Baru Omicron

Ancaman varian yang lebih serius juga dapat mendorong bank sentral seperti The Fed dan Bank Sentral Eropa (ECB) menjadi lebih dovish. Mereka perlu mengimbangi pengetatan yang lebih agresif di negara-negara berkembang.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 29 November 2021  |  16:00 WIB
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Tugas bank sentral di negara berkembang akan semakin berat untuk mempertahankan nilai tukar seiring dengan kemunculan varian virus baru, Omicron dan rencana Federal Reserve untuk mencabut stimulus moneternya.

Dilansir Bloomberg pada Senin (29/11/2021), kekhawatiran investor terhadap varian omicron telah membuat nilai tukar bergerak turun pada Jumat. MSCI Emerging Markets Currency Index menunjukkan defisit sepanjang tahun, penurunan tahunan pertama dalam 3 tahun terakhir.

Namun, sejumlah bank sentral di negara berkembang sedang dilemahkan oleh kekuatan baru dolar jauh sebelum omicron ditemukan. Kebijakan moneter semakin ketat dialami oleh Korea Selatan, Rusia, hingga Brasil. Negara-negara ini tidak bisa berbuat banyak untuk membendung kerugian mata uang yang memicu inflasi.

Sementara itu, negara-negara yang sudah menaikkan suku bunga acuan pada November seperti peso Meksiko, rand Afrika Selatan, dan forint Hungaria menjadi yang paling terpuruk.

"Semua faktor yang membatasi visibilitas akan membuat pekerjaan lebih sulit bagi bank sentral. Namun, semakin banyaknya bank sentral negara berkembang yang mulai menyadari apakah inflasi sementara atau tidak, maka tidak relevan pada tahap ini," ujar Manajer Senior Investasi Viktor Szabo

Menurutnya, meski inflasi disebabkan oleh gangguan pada rantai pasok, inflasi tetap dapat menekan mata uang.

Kepala Strategi Pasar Berkembang Credit Agricole SA di New York, Olga Yangol mengatakan ancaman varian yang lebih serius juga dapat mendorong bank sentral seperti The Fed dan Bank Sentral Eropa (ECB) menjadi lebih dovish. Mereka perlu mengimbangi pengetatan yang lebih agresif di negara-negara berkembang.

"Varian baru dapat memukul pasar berkembang dibandingkan dengan aset lainnya, utamanya mata uang beta tinggi seperti Amerika Latin dan Asia Selatan yang lebih sensitif pada sentimen risiko dan lebih mengekspos energi dan pariwisata, sektor yang paling terdampak pandemi," ujarnya.

Campur tangan politik juga ternyata tidak membantu. Kampanye Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk menyuarakan suku bunga rendah telah membuat lira terjun bebas pada pekan lalu.

Peso Meksiko merosot ketika Presiden Andres Manuel Lopez Obrador mencalonkan pejabat Kementerian Keuangan yang kurang dikenal untuk memimpin bank sentral Banxico. Hal ini memicu kekhawatiran campur tangan pemerintah dalam independensi bank sentral.

Ahli Strategi Makro Senior Nordea Investment, yang berbasis di Kopenhagen, Witold Bahrke mengatakan setiap kencenderungan campur tangan pemerintah dalam kebijakan moneter akan segera direspons negatif oleh pasar selama hambatan moneter global semakin kuat.

"Meskipun alasan utama bagi kami untuk meremehkan mata uang pasar berkembang adalah pengetatan kondisi moneter global, ini memperkuat kasus bearish [pesimistis] untuk pasar," ungkap Bahrke.

Korelasi pada mata uang negara berkembang dengan Treasury jangka pendek mendekati level terkuat sejak 2014, menggarisbawahi potensi dampak dari suku bunga AS yang lebih tinggi.

Investor melakukan lindung nilai terhadap risiko perubahan harga yang lebih luas karena dolar naik ke level tertinggi sejak Juli 2020. JPMorgan Chase & Co., mencatat nilai mata uang negara berkembang naik pekan lalu di atas 10 persen untuk pertama kalinya sejak April.

Suku bunga riil pada sebagian besar negara berkembang berada di bawah nol meskipun sudah ada pengetatan. Dengan demikian, daya tarik aset pasar berkembang meredup karena imbal hasil AS meningkat dan kekhawatiran atas daya tahan pemulihan di negara berkembang semakin tinggi.

Investor akan segera mendapat petunjuk terkait dengan kesehatan pasar negara berkembang dalam beberapa hari ke depan, seiring dengan segera dirilisnya indeks manajer pembelian China dan angka PDB dari Turki, India, dan Brasil.

Seperti diberitakan sebelumnya, Hungaria telah mengikuti jejak negara tetangganya dengan menaikkan suku bunga untuk ketiga kalinya dalam 2 pekan pada Kamis lalu. Namun, negara itu gagal mencegah kejatuhan nilai forint.

Sementara itu, Presiden Bank Sentral Brasil Roberto Campos Neto telah memperingatkan agar tidak menaikkan suku bunga yang terlalu cepat meskipun kekhawatiran mereka terhadap inflasi yang di atas target.

Real Brasil turun lebih dari 7 persen tahun ini meskipun ada kenaikan suku bunga 575 basis poin. Bahkan, ada sinyal dari bank sentral terkait dengan kenaikan 150 basis poin dalam prospek bulan depan.

“Kami memperkirakan mata uang akan tetap di bawah tekanan hingga akhir tahun dan mungkin hingga awal 2022. Sulit bagi mata uang pasar berkembang untuk bersaing dengan dolar AS saat ini,” kata Manajer Uang yang berbasis di London di Fidelity International Paul Greer.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nilai tukar Covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top