Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PPN Naik Jadi 11 Persen, UMP Cuma Tumbuh 1,09 Persen. Ekonom: Masyarakat Terbebani

Kenaikan PPN di tengah perkembangan UMP yang minim akan memengaruhi daya beli masyarakat.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 22 November 2021  |  13:22 WIB
Buruh pabrik garmen berjalan keluar pabrik di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (20/2/2017). - Antara/Yulius Satria Wijaya
Buruh pabrik garmen berjalan keluar pabrik di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (20/2/2017). - Antara/Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom menilai bahwa kebijakan perpajakan pada tahun depan, khususnya kenaikan pajak pertambahan nilai atau PPN kurang mengakomodasi kepentingan para pekerja, terlebih ketika kenaikan upah minimum provinsi atau UMP 2022 yang hanya 1,09 persen.

Ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai bahwa kenaikan PPN dari 10 persen menjadi 11 persen pada tahun depan dapat membawa beban tersendiri bari masyarakat. Kenaikan tarif pajak itu memang berasumsi dari pemulihan ekonomi, tetapi konsumsi masyarakat pun menghadapi kendala lain.

Kenaikan UMP tahun depan yang hanya 1,09 persen, menurut Bhima, tidak akan mengangkat konsumsi para pekerja dengan cukup optimal. Artinya, kenaikan PPN di tengah perkembangan UMP yang minim akan memengaruhi daya beli masyarakat.

"Kebijakan perpajakannya juga tidak mengakomodasi kepentingan para pekerja. Ini menurut saya cukup berisiko sebenarnya, menghambat daya beli masyarakat yang sekarang sedang dalam pemulihan. Penjualan ritel akan terpengaruh," ujar Bhima pada Senin (22/11/2021).

Dia menilai bahwa kenaikan upah yang hanya 1,09 persen tidak sebanding dengan laju inflasi yang berpotensi terjadi. Menurut Bhima, pada 2022, inflasi diproyeksikan berada di rentang 3 persen–4 persen.

Kenaikan UMP di bawah laju inflasi menurutnya akan memengaruhi daya beli kelas menengah. Selain itu, pekerja yang rentan akan menghadapi tantangan lebih besar karena konsumsi rumah tangganya berpotensi terhambat.

"Kenapa upah minimum setidaknya naik di atas inflasi dan pertumbuhan ekonomi tujuannya adalah agar masyarakat memiliki uang lebih untuk dibelanjakan. Ujungnya, yang akan diuntungkan adalah pelaku usaha juga," ujar Bhima.

Di sisi lain, dia menilai bahwa rendahnya kenaikan upah minimum itu harus menjadi momentum pemerintah menertibkan pengusaha-pengusaha yang tidak taat aturan, yaitu yang memberikan upah di bawah ketentuan minimum. Menurut Bhima, hal tersebut menjadi rahasia umum yang banyak terjadi.

"Di sini pemerintah memang paralel harus mendorong kepatuhan pemberlakuan upah minimum. Jangan sampai upah naiknya rendah, kepatuhan juga rendah," ujar Bhima.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ump ppn daya beli
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top